DENPASAR — Kabar duka datang dari dunia musik Bali. Rekan sesama pemusik, Totok, membenarkan kepergian musisi senior tersebut.
"Jik Riwin berpulang Minggu (25/10/2026)," ujar Totok kepada Radar Bali.id.
Riwin menutup usia di 70 tahun. Penyakit yang dideritanya, termasuk kadar gula berlebih, disebut menjadi penyebab kepergiannya.
Sebelum kembali ke Bali, Riwin lebih dulu berpetualang di Bandung bersama Pahama. Kelompok musik folk itu terbentuk pada 1976.
Nama Pahama merupakan akronim dari Pattirane, Hatami, dan Manusama, sebelum Riwin bergabung. Formasi berikutnya beranggotakan Raymond Pattirane, Denny Hatami, I Ketut Riwin, dan Ary Malibu.
Sejumlah lagu mereka meninggalkan jejak, di antaranya Waktu Hujan Sore-sore, Pergi untuk Kembali, Tukang Copet, dan Adakah Cintamu.
Setelah pulang ke Bali, Riwin mendirikan Tropical Transit pada Agustus 1990 di Denpasar. Band itu mengusung genre musik latin dengan gaya panggung eksentrik.
Perannya di Tropical Transit membuat Riwin dikenal sebagai gitaris dedengkot, sosok yang berdiri di barisan depan kelompok tersebut.
Riwin tercatat sebagai musisi yang membabat hutan dunia entertainmen di kawasan Kuta pada era 1970-an. Saat itu, ia aktif di masa Flower Generation.
Kelab malam Kayu Api di Legian, Kuta, menjadi salah satu panggung yang tersohor pada periode tersebut. Dari tempat itu pula lahir band rock Harley Angels, jawara edisi perdana festival musik rock produksi Log Zhelebour pada 1984.
Kepergian Riwin meninggalkan jejak panjang dari Bandung hingga Denpasar. Dumogi Amor ring Acintya. Selamat jalan Ajik Riwin.