Pencarian

Insiden Meninggal Saat Snorkeling di Nusa Penida Picu Kekhawatiran

Rabu, 04 Februari 2026 • 12:55:03 WIB
Insiden Meninggal Saat Snorkeling di Nusa Penida Picu Kekhawatiran

Nusa Penida dikenal luas sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Bali. Pulau ini menawarkan panorama alam dramatis dengan tebing-tebing curam serta spot snorkeling kelas dunia yang terus menarik lonjakan kunjungan wisatawan. Namun, pada 2 Februari lalu, sebuah peristiwa tragis kembali terjadi dan memicu kekhawatiran terkait standar keselamatan bagi wisatawan dan operator tur.

Bagi pengunjung, Nusa Penida identik dengan destinasi ikonik seperti Pantai Kelingking dan Pantai Diamond yang menyuguhkan pemandangan spektakuler. Selain itu, aktivitas petualangan paling diminati adalah snorkeling dan menyelam bersama pari manta di perairan sekitar pulau. Kegiatan ini menjadi magnet utama bagi wisatawan yang datang ke pulau terpencil tersebut, dengan puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya. Keindahan bawah laut Nusa Penida pun diakui sepadan dengan visual yang sering beredar di media sosial.

Namun, pada 2 Februari, insiden fatal terjadi di Manta Point, salah satu lokasi snorkeling populer di Nusa Penida. Seorang wisatawan asal Korea Selatan berusia 40 tahun berinisial SR dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti tur snorkeling. Kejadian ini dikonfirmasi oleh Kepala Kepolisian Nusa Penida, AKP I Ketut Kesuma Jaya, yang menyampaikan bahwa insiden berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA ketika korban snorkeling bersama wisatawan lain dengan pendampingan pemandu lokal dan kapten kapal berpengalaman.

Menurut AKP Kesuma, korban ditemukan dalam kondisi lemah sehingga pemandu segera meminta bantuan dari kapal lain di sekitar lokasi untuk proses evakuasi. SR kemudian dipindahkan ke kapal terdekat dan langsung mendapatkan pertolongan pertama, termasuk tindakan resusitasi. Meski demikian, korban tidak sadarkan diri dan dinyatakan meninggal dunia setibanya di Klinik Nusa Medika, Nusa Penida.

Pasca kejadian tersebut, AKP Kesuma mengimbau wisatawan agar lebih bertanggung jawab terhadap kondisi kesehatan pribadi sebelum mengikuti aktivitas wisata berisiko. Ia juga menekankan pentingnya peran operator tur dalam memastikan kesiapan fisik dan kesehatan tamu sebelum memulai kegiatan snorkeling atau menyelam.

Dalam waktu dekat, aktivitas wisata bahari di Bali diperkirakan akan dihadapkan pada kondisi cuaca ekstrem dan pasang laut tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali telah mengeluarkan imbauan agar seluruh wisatawan yang beraktivitas di wilayah pesisir dan laut mengutamakan keselamatan, khususnya selama periode bulan purnama.

Peringatan gelombang tinggi dan pasang laut diberlakukan di berbagai destinasi pantai populer di Bali, seperti Canggu, Seminyak, Legian, Kuta, Jimbaran, Uluwatu, Ungasan, Kutuh, Nusa Dua, Sanur, Keramas, Candidasa, hingga Pantai Soka, Balian, dan Medewi. Kepala BMKG Bali menjelaskan bahwa fenomena bulan purnama pada 2 Februari 2026 berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut maksimum di sejumlah wilayah pesisir.

BMKG juga mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk tetap waspada serta aktif memantau informasi cuaca maritim terkini melalui kanal resmi BMKG Wilayah III. Meskipun peringatan ini secara resmi berlaku hingga 4 Februari, potensi perpanjangan tetap terbuka mengingat Bali masih berada dalam puncak musim hujan dan cuaca ekstrem terus terjadi sejak pertengahan November.

Wisatawan yang berada di Bali diimbau untuk terus mengikuti pembaruan informasi keselamatan dan cuaca dari sumber tepercaya. Selain itu, memiliki asuransi perjalanan yang memadai sebelum berlibur sangat dianjurkan, serta rutin memantau informasi cuaca dari BMKG Bali yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris melalui media sosial resminya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks