GIANYAR — Enam warga negara asing itu bukan sekadar mempelajari teknik menabuh di ruang tertutup. Mereka ingin merasakan langsung bagaimana seni, adat, dan agama menyatu dalam kehidupan masyarakat Bali melalui kegiatan ngayah di pura.
Latihan Enam Gending Sejak Awal Tahun
Pemilik Sanggar Tawa Keta, I Kadek Astawa, S.Sn., mengatakan para peserta sudah menguasai enam gending Selonding. Mereka memulai proses belajar sejak Januari 2026 setelah sebelumnya mendalami Gong Kebyar dan Gender.
“Karena mereka datang memang ingin belajar, jadi fokusnya sangat bagus. Saat ini mereka sudah menguasai enam gending Selonding,” ujar Astawa yang juga alumni dan staf kemahasiswaan ISI Bali.
Sudah Ngayah di Pura Besakih hingga Upacara Pawiwahan
Sebelum tampil di Pura Dalem Sukaluwih, kelompok penabuh asing ini tercatat sudah beberapa kali ngayah. Mereka pernah membawakan tabuh Selonding di Pura Besakih pada April lalu, odalan di Pura Samuan Tiga, hingga upacara pawiwahan masyarakat Bali. Jadwal berikutnya, mereka akan ngayah di Pura Penataran Sukawati.
Beli Perlengkapan Adat Sendiri, Tinggal di Gianyar dan Badung
Keseriusan para musisi mancanegara terlihat dari usaha mereka menyesuaikan diri dengan tradisi setempat. Setibanya di Bali, mereka membeli sendiri kamen, saput, udeng, kebaya, hingga bros untuk dipakai saat mengikuti kegiatan keagamaan.
Saat ini para peserta tinggal di sejumlah wilayah di Gianyar dan Badung, seperti Celuk dan Sibang. Ada yang menetap selama satu tahun, ada pula yang bolak-balik dari negaranya untuk mengikuti program pembelajaran di Sanggar Tawa Keta.
Dari Kelas Singkat ISI Bali ke Media Sosial
Astawa menuturkan sanggarnya mulai menerima murid asing sejak 2015. Awalnya berawal dari pertemuan dengan mahasiswa mancanegara yang mengikuti kelas singkat di ISI Bali. Informasi tentang sanggar kemudian menyebar dari mulut ke mulut hingga media sosial, membuat peminat dari luar negeri terus bertambah.
Harapan agar Generasi Muda Bali Tidak Jadi Penonton
Di tengah meningkatnya minat warga asing terhadap gamelan tradisional, Astawa berharap regenerasi seniman Bali tetap berjalan. “Jangan sampai justru orang Bali menjadi penonton. Regenerasi harus terus berjalan, dimulai dari anak-anak dengan dukungan penuh dari orang tua,” tegasnya.
Fenomena musisi mancanegara yang rela datang berkali-kali ke Bali demi mendalami Selonding menjadi bukti bahwa gamelan sakral warisan leluhur masih memiliki daya tarik mendunia di tengah arus modernisasi.