SINGARAJA — Tradisi 'mepatung', atau membeli daging secara bersama, kembali dihidupkan di Buleleng menjelang Galungan. IGK Kresna Budi memimpin langsung pembagian daging babi gratis di kediamannya, Kelurahan Liligundi, dengan menyasar warga kurang mampu dan lanjut usia di sejumlah desa dan kelurahan.
Subsidi Rp1 Juta Per Ekor untuk 30 Babi
Kresna Budi menjelaskan, satu ekor babi seberat 100 kilogram dihargai Rp4 juta hingga Rp4,5 juta di pasaran. Melalui program ini, partainya memberikan subsidi Rp1 juta per ekor sehingga warga bisa mendapat daging lebih murah.
"Catatan kami, kita memberikan subsidi pembelian 30 ekor babi pada Hari Raya Galungan ini," kata Kresna Budi dalam keterangannya, Senin malam.
Bukan Sekadar Daging Murah, Ada Ekosistem Peternakan
Politikus Golkar itu menekankan, kegiatan ini bukan hanya soal meringankan beban warga. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk menggerakkan hilirisasi peternakan babi di Buleleng.
"Hilirisasi dari ekosistem peternakan yang bergulir dan membuat masyarakat tersenyum gembira menyambut hari raya ini merupakan kebahagian bagi kami," tandasnya.
Ia menambahkan, peternak babi di Buleleng diuntungkan karena ternaknya pasti terjual. Sementara warga bisa tersenyum mendapat daging dengan harga lebih murah.
Peluang Pasar Babi: Permintaan Kalbar Capai 5.000 Ekor Per Bulan
Kresna Budi yang memiliki puluhan kelompok ternak binaan mengungkapkan, permintaan babi dari luar Bali sangat besar. Dari Kalimantan Barat saja, kebutuhan mencapai 5.000 ekor per bulan dengan nilai transaksi diperkirakan Rp25 miliar.
"Belum mampu kita penuhi karena tidak banyak peternakan besar yang ada di Buleleng," ungkapnya.
Menurutnya, tingginya permintaan ini tidak lepas dari populasi masyarakat nonmuslim di sejumlah wilayah, seperti komunitas Dayak di Kalbar, yang menjadikan babi sebagai bagian tradisi budaya.
Kendala Peternak: Modal, Pakan, hingga Ancaman Penyakit
Meski peluang pasar menjanjikan, pengembangan peternakan babi di Buleleng masih menghadapi sejumlah kendala. Kresna Budi menyebut, keterbatasan kandang, minimnya modal, hingga tingginya biaya pakan menjadi tantangan utama.
"Kalau hanya diberikan bibit, banyak yang tidak mampu membeli pakan. Karena bantuan itu yang diberikan harus mencakup bibit dan pakan sekaligus," jelasnya.
Ancaman penyakit ternak dan keterbatasan SDM dalam pengelolaan peternakan modern juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Golkar Buleleng Jadikan Program Berbagi Daging Babi Sebagai Agenda Rutin
Mendapat sambutan hangat dari masyarakat, Kresna Budi memastikan kegiatan ini akan menjadi program rutin Golkar Buleleng setiap Hari Suci Galungan dan Kuningan. Sejumlah desa seperti Ambengan, Sambangan, Padangbulia, hingga Sembiran menjadi lokasi pengembangan peternakan binaan.
Setiap kelompok ternak binaan mendapat dukungan bibit dan pakan senilai Rp100 juta per kelompok. "Pola pendampingan dilakukan secara berkelanjutan," pungkasnya.