Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa dana yang digelontorkan melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung itu menopang seluruh rangkaian upacara dari awal hingga puncak piodalan. Menurutnya, Tawur Balik Sumpah Agung bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan prosesi besar pembersihan spiritual bagi alam semesta.
“Ini adalah karya utama yang luar biasa. Tidak sekadar melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga mengandung makna penyucian jagat secara sekala dan niskala. Dengan penyucian inilah Bali tetap bersinar dan tetap menjadi daerah yang penuh kerahayuan,” ujar Adi Arnawa di sela-sela upacara.
Puncak Piodalan Jatuh pada Anggara Kasih Medangsia
Rangkaian yadnya ini merupakan bagian integral dari Pujawali Pedudusan Agung yang digelar secara berkala. Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, merinci bahwa piodalan rutin di Pura Uluwatu sejatinya dihelat setiap enam bulan sekali. Namun, kali ini piodalan dirangkaikan dengan ritual Padudusan Agung yang berlangsung tiap lima tahun. Adapun tingkatan utama lainnya, Panca Wali Krama, baru dilaksanakan setiap sepuluh tahun.
Puncak piodalan dipastikan jatuh pada Selasa (7/7/2027), tepat pada hari Anggara Kasih Medangsia. Prosesi upacara yang berlangsung khidmat ini dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur dan Ida Pedanda Gede Made Darma Kerti dari Griya Saraswati.
Esensi Tawur: Mengembalikan Kesucian Bhuana Alit dan Bhuana Agung
Penglingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya, menjelaskan makna mendalam di balik upacara tersebut. Pria yang akrab disapa Turah Joko ini menyebut bahwa Tawur Balik Sumpah bertujuan memohon harmonisasi total.
“Acara hari ini tidak lain adalah bagaimana kita mensucikan bumi. Karena tawur adalah untuk kita mengembalikan Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta) supaya kembali suci. Itu harapan kita bersama,” kata Turah Joko.
Kolaborasi Dharma Agama dan Dharma Negara
Bupati Adi Arnawa memandang yadnya ini sebagai momentum kolaborasi antara dharma agama (kewajiban spiritual) dan dharma negara (kewajiban warga negara). Melalui getaran doa di Pura Sad Kahyangan, seluruh lapisan masyarakat diajak mempererat persatuan dan memohon kedamaian untuk Badung, Bali, hingga Nusantara.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan upacara ini, sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat. Sekaligus kita subakti majeng ring Ida Bhatara untuk selalu kita diberikan kesehatan, kerahayuan,” tambahnya.
Wisatawan Asing Turut Menyaksikan Prosesi Adat
Daya tarik prosesi adat di tebing selatan Bali ini tidak hanya memikat umat domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara. Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, menilai ketertarikan turis asing menjadi media promosi budaya Bali yang organik ke panggung dunia. Ia mengimbau krama dan pelancong untuk bersama-sama menjaga ketertiban demi kelancaran upacara.
Hadir dalam prosesi tersebut Sekda Badung IB. Surya Suamba, jajaran kepala OPD di Lingkup Pemkab Badung, Wakil DPRD Provinsi Bali, Camat Kuta Selatan, Ketua Organisasi Kewanitaan Kabupaten Badung, serta penglingsir setempat.