Gubernur Bali Wayan Koster meminta dukungan investasi China di sektor energi bersih untuk mewujudkan kemandirian energi daerah. Permintaan itu disampaikan Koster dalam sambutan pada peringatan HUT ke-77 Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar. Pemprov Bali tengah membidik peluang investasi pada proyek PLTS berkapasitas 1.000 hingga 1.500 MWp yang sedang diproses PT PLN.
DENPASAR — Permintaan itu disampaikan langsung di hadapan Konsul Jenderal RRT di Denpasar Zhang Zhisheng. Koster menyebut investasi Tiongkok dibutuhkan agar Bali memiliki kualitas dan daya saing berkelanjutan.
"Investasi dari China ke Bali untuk mewujudkan energi bersih sangat kami harapkan guna mendukung Bali mandiri energi," kata Koster dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Rabu.
PLTS 1.000-1.500 MWp Sedang Diproses PLN
Pemprov Bali membidik peluang investasi pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 1.000 hingga 1.500 MWp. Proyek itu masih dalam proses penanganan PT PLN.
Koster menilai China punya dua modal utama yang dibutuhkan Bali. Selain keunggulan teknologi, menurutnya Tiongkok memiliki dana yang cukup.
"Saya mendengar, China selain memiliki keunggulan teknologi, juga memiliki dana yang cukup, sehingga investasi dari China ke Bali sangat kami harapkan," ujar Koster.
Proyek Sampah Jadi Listrik Beroperasi Desember 2027
Sinergi kedua pihak di bidang lingkungan sudah berjalan lewat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek yang digarap Weiming Environment Protection Co., Ltd itu dimulai pada 8 Juli 2026.
Fasilitas tersebut ditargetkan rampung Oktober atau beroperasi Desember 2027. Kapasitasnya mencapai sekitar 1.500 ton sampah per hari dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Dua daerah itu selama ini menjadi penyumbang utama persoalan sampah di Bali. Kehadiran PSEL diharapkan memangkas beban tersebut.
Wisatawan China ke Bali Tembus 400 Ribu Orang
Hubungan Bali dan Tiongkok terbangun lama karena faktor historis. Kerja sama mencakup budaya, ekonomi, perdagangan, pariwisata, hingga pendidikan.
Hingga 31 Agustus 2026, kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali tercatat menembus 400 ribu orang lebih. Angka itu menempatkan Tiongkok sebagai salah satu pasar utama pariwisata Pulau Dewata.
Zhang Zhisheng menyebut hubungan Tiongkok dan Indonesia berada pada masa terbaik dalam sejarah. Ia merujuk gagasan Presiden Xi Jinping soal Komunitas Senasib Sepenanggungan Umat Manusia.
"Ke depan, Tiongkok siap bekerja sama dengan Indonesia untuk melaksanakan kesepakatan strategis para pemimpin kedua negara dan memajukan kerja sama berkualitas tinggi di bawah Belt and Road Initiative," ujar Zhang Zhisheng.
Salak Bali hingga Penerbangan Beijing-Denpasar
Konsulat Jenderal RRT di Denpasar berkomitmen menjadi jembatan penghubung kerja sama antarwilayah. Sejumlah program sudah berjalan di Bali.
Di Denpasar dan Buleleng, ada program Kemitraan Tanggap Darurat Berbasis Masyarakat oleh Tim Penyelamat Kesejahteraan Masyarakat Shenzhen. Penerbangan langsung Beijing-Denpasar juga kembali beroperasi normal.
Dari sektor ekonomi, ekspor produk unggulan seperti salak Bali dan produk laut melalui rantai pendingin terus dikirim ke pasar Tiongkok. Provinsi Yunnan sebagai provinsi sahabat Bali merealisasikan tahap ketiga proyek kerja sama pariwisata pertanian lestari di Kabupaten Tabanan.
Untuk pasokan listrik, PT General Energy Bali atau China Huadian Corporation disebut memegang peran kunci menjaga kestabilan di Pulau Dewata. Tiongkok juga telah mengundang Presiden Prabowo Subianto ke KTT APEC pada November tahun ini.