BALI — Guru Besar FEB UI Rhenald Kasali menyoroti komposisi menu Business Class Garuda Indonesia pada penerbangan Narita–Denpasar, 21 Oktober 2026, yang dinilai minim sajian khas Indonesia. Lewat unggahan Instagram @rhenald.kasali pada 23 Oktober 2026, ia membandingkan pilihan menu internasional dengan kekayaan kuliner daerah yang bisa diangkat. Kritiknya menyentuh peran maskapai nasional sebagai etalase budaya, bukan sekadar penyedia makanan.
Rhenald menilai daftar menu dalam penerbangan tersebut belum banyak menampilkan cita rasa Tanah Air. Buku menu yang ia perlihatkan memuat Vietnamese Chicken with Sweet and Sour Sauce serta Japanese Set Menu. Penerbangan berangkat dari Tokyo, sehingga keberadaan menu Jepang ia maklumi.
Yang ia pertanyakan justru tidak adanya nasi Bali, sei sapi, atau hidangan Nusantara lain untuk penumpang yang menuju Denpasar. Menurut Rhenald, pilihan internasional seharusnya bisa diganti atau dilengkapi sajian daerah.
Bagi Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu, kuliner punya fungsi lebih dari sekadar rasa. Ia menyebut sajian Nusantara bisa menjadi bagian pengalaman wisata bahkan sebelum penumpang tiba di Tanah Air.
"Kuliner bukan sekadar soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas dan promosi sebuah negara," tulis Rhenald dalam unggahannya.
Ia lantas menyodorkan sejumlah contoh yang menurutnya layak masuk daftar: ayam betutu khas Bali, sei sapi, hingga ayam tangkap khas Aceh. Pertanyaannya tegas—mengapa yang tersaji justru Vietnamese Chicken with Sweet and Sour Sauce?
Kritik menu tidak lantas membuat Rhenald menutup mata pada sisi lain penerbangan. Ia memberi jempol untuk pelayanan kru dan kebersihan pesawat. Soal rasa, ia pun mengakui chef bekerja baik meski hidangannya bukan kuliner Indonesia.
"Terlepas dari itu, saya memberi jempol atas pelayanan para kru dan kebersihan pesawat. Meski bukan kuliner Indonesia, chef-nya pintar dan masakannya pun enak," tulisnya.
detikTravel telah menghubungi Garuda Indonesia untuk meminta tanggapan atas penilaian Rhenald. Hingga berita ini ditulis, maskapai pelat merah itu belum memberikan respons.
Sebelum kritik muncul, Garuda Indonesia memperkenalkan sejumlah menu Nusantara untuk penumpang Business Class lewat akun Instagram resminya, tiga hari sebelum unggahan Rhenald. Salah satunya siomay tenggiri untuk penerbangan dari Jakarta menuju Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Ada pula gohyong ayam yang disebut sebagai hidangan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi.
Maskapai nasional memegang posisi strategis sebagai pintu masuk wisatawan. Sajian khas daerah di kabin Business Class penerbangan internasional dapat memperkenalkan kekayaan daerah sekaligus mendukung promosi pariwisata dan ekonomi kreatif.
Untuk traveler yang hendak terbang ke Bali dari Jepang, menu dalam penerbangan bisa jadi pembuka sebelum liburan dimulai. Informasi menu terbaru tiap rute dapat dikonfirmasi langsung ke Garuda Indonesia atau agen perjalanan sebelum keberangkatan.