BALI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan 2026/2027 terjadi Desember hingga Februari, dengan 155 zona musim (ZOM) memasuki puncak pada Desember. Sebagian besar wilayah Indonesia baru mengawali musim hujan pada November (185 ZOM) dan Desember (266 ZOM). Lonjakan curah hujan di periode itu berpotensi memicu banjir dan longsor di sejumlah daerah rawan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi bersamaan. Periode antara awal masuknya musim hujan dan puncaknya umumnya berlangsung berdekatan, sehingga wilayah yang baru diguyur hujan pada November bisa langsung menghadapi curah hujan tinggi pada Desember.
Puncak Musim Hujan Terbagi Tiga Periode
BMKG memetakan puncak musim hujan 2026/2027 ke dalam tiga periode berdasarkan zona musim. Pada Desember, puncak musim hujan mencakup 155 ZOM atau 36,94 persen luas daratan Indonesia. Jumlahnya turun pada Januari menjadi 162 ZOM (25,68 persen) dan Februari sebanyak 190 ZOM (16,79 persen).
Wilayah yang diprediksi mencapai puncak musim hujan pada Desember meliputi sebagian Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, dan sebagian besar Sulawesi Barat. Wilayah lain di periode ini mencakup sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, serta Papua Selatan bagian barat.
Daftar Wilayah Puncak Musim Hujan Januari dan Februari
Pada Januari, puncak musim hujan bergeser ke Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, dan Lampung bagian utara. Sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, dan sebagian NTT juga masuk periode ini.
Wilayah Kalimantan yang mencapai puncak pada Januari mencakup sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, dan sebagian Kalimantan Selatan. Periode yang sama berlaku untuk sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua.
Memasuki Februari, puncak musim hujan melanda Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, dan sebagian besar NTT. Wilayah lain di periode ini adalah Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
Peringatan Bencana Hidrometeorologis
Ardhasena mengingatkan lonjakan curah hujan pada puncak musim hujan berpotensi memicu bencana hidrometeorologis. "Perlu kita waspadai bersama lonjakan musim hujan dan curah hujan yang terjadi pada musim hujan tahun ini karena bisa menyebabkan dampak turunan seperti banjir dan longsor," ujarnya pada konferensi pers daring, Selasa (22/9).
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mengoptimalkan sistem drainase serta kesiapan evakuasi. Langkah itu dinilai penting untuk mengantisipasi banjir dan longsor pada awal hingga puncak musim hujan.
Wilayah Rawan yang Perlu Diwaspadai
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyebut sejumlah wilayah yang secara historis rawan bencana pada musim hujan. Daftarnya mencakup Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, dan sebagian Maluku.
"Periode musim hujan ini pendek, tetapi curah hujan umumnya lebih besar dan normal. Nah ini yang perlu diwaspadai, jadi nanti bisa saja hujan jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut," kata Andri.
BMKG menilai durasi musim hujan yang pendek tidak otomatis menurunkan risiko. Curah hujan yang terkonsentrasi di bulan-bulan puncak justru memperbesar peluang genangan dan longsor, terutama di daerah dengan drainase buruk dan lereng gundul.