JAKARTA — Pukul 09.00 WIB, tekanan jual masih mendominasi di lantai bursa. Data Bloomberg mencatat rupiah melemah 33 poin (0,19 persen) terhadap dolar AS, melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung dalam sepekan terakhir. Di sesi preopening, IHSG sebenarnya sudah memberikan sinyal merah dengan terkoreksi 1,40 persen ke level 6.628,976 sebelum akhirnya semakin dalam saat perdagangan resmi dimulai.
Koreksi ini tidak terjadi sendirian. Hampir seluruh bursa Asia kompak bergerak di zona merah. Nikkei 225 Jepang ambles 625,902 poin (1,02 persen) ke 60.783,398, disusul Hang Seng Hong Kong yang merosot 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230. Indeks Straits Times Singapura juga tak selamat dengan koreksi 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990. Satu-satunya yang masih bertahan hijau adalah SSE Composite China yang naik tipis 2,399 poin (0,06 persen) ke 4.137,790.
Pelemahan rupiah yang kini sudah menembus level psikologis Rp 17.600 menjadi perhatian utama pelaku pasar. Para analis menilai tekanan terhadap mata uang Garuda lebih dalam dibanding negara tetangga karena faktor eksternal dan domestik yang bertumpuk. Kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia dan ketidakpastian ekonomi global pasca data tenaga kerja AS menjadi pemicu utama aksi jual di pasar keuangan Tanah Air.
Level psikologis 6.500 menjadi garis pertahanan terdekat IHSG. Jika indeks gagal bertahan di atas level tersebut, bukan tidak mungkin tekanan jual akan semakin deras pada sesi kedua. Sementara di pasar valas, pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada intervensi Bank Indonesia dan sentimen dari bursa AS yang baru akan dibuka nanti malam.
Pelaku pasar disarankan untuk mencermati pergerakan dolar AS dan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia, terutama batu bara dan minyak sawit mentah (CPO), yang selama ini menjadi penyangga utama nilai tukar rupiah. Jika harga komoditas ikut tertekan, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan semakin berat dalam beberapa hari ke depan.