BALI — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.681 per dolar AS, langsung melemah 13 poin dari penutupan sebelumnya. Dalam dua jam pertama perdagangan, tekanan jual terus mendorong kurs hingga menyentuh Rp 17.724 per dolar AS pada pukul 10.24 WIB. Angka ini menggeser rekor terlemah sebelumnya yang sempat tercatat pada krisis 1998.
Pelemahan rupiah bukan fenomena soliter. Mayoritas mata uang Asia ikut terperosok: won Korea Selatan ambles 0,74%, baht Thailand turun 0,18%, dan yen Jepang melemah 0,08%. Hanya yuan China yang relatif stabil dengan koreksi tipis 0,01%.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengidentifikasi dua faktor utama yang menggerakkan pasar hari ini. Pertama, meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran—ironisnya, ini justru memperkuat dolar karena investor kembali ke aset safe haven. Kedua, pasar sedang menahan napas menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan membuat pelaku pasar cenderung wait and see," ujar Lukman. Investor khawatir BI akan menaikkan suku bunga untuk menahan laju pelemahan rupiah, langkah yang bisa menekan likuiditas di pasar saham dan obligasi. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 sepanjang hari ini.
Bagi importir, level ini adalah mimpi buruk. Setiap kontainer bahan baku atau barang jadi yang dibayar dalam dolar AS kini membutuhkan rupiah 6,25% lebih banyak dibandingkan awal tahun. Perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar juga akan mencatat kerugian selisih kurs yang signifikan di laporan keuangan kuartal II nanti.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel justru bisa tersenyum. Setiap dolar AS yang mereka terima dari penjualan luar negeri kini setara dengan lebih banyak rupiah. Namun, keuntungan ini bisa tergerus jika permintaan global ikut melambat akibat perlambatan ekonomi AS dan China.
Dalam jangka pendek, volatilitas masih akan tinggi. Keputusan BI pada RDG pekan ini menjadi katalis utama: jika suku bunga naik, rupiah berpotensi rebound terbatas; jika ditahan, tekanan jual bisa berlanjut. Investor ritel disarankan menghindari spekulasi jangka pendek di pasar valas tanpa lindung nilai. Bagi pemegang saham di sektor perbankan dan properti, pelemahan rupiah adalah risiko yang perlu dimonitor karena bisa menekan margin dan permintaan kredit.
Pertanyaan besarnya: akankah ini menjadi titik terendah, atau justru awal dari tren baru? Jawabannya tergantung pada seberapa cepat BI bergerak dan seberapa lama dolar AS tetap perkasa. Sampai ada kejelasan, pasar akan terus bergerak dalam ketidakpastian. Investasi mengandung risiko.