Tergerus Zaman, Dokar Tradisional di Jembrana Nyaris Punah: Tersisa Enam Unit, Kusir Renta Menanti Keajaiban Penumpang

Penulis: Vino Bastian  •  Senin, 25 Mei 2026 | 15:29:01 WIB
Kusir dokar di Jembrana menanti penumpang di trotoar kota Negara.

NEGARA — Di sudut trotoar, sang kusir memilih duduk bersila, tatapannya kosong menembus hilir mudik kendaraan bermotor, berharap ada keajaiban penumpang yang sudi menyapa jasanya. Pemandangan ini kini makin langka di Jembrana. Dari puluhan dokar yang dulu melayani rute pasar dan permukiman, kini hanya enam unit yang masih beroperasi.

Berapa Penghasilan Kusir Dokar di Jembrana Sekarang?

Para kusir yang sebagian besar sudah berusia di atas 60 tahun mengaku pendapatan mereka sangat tidak menentu. Dalam sehari, mereka bisa saja tidak mendapatkan satu pun penumpang. Jika ada rezeki, ongkos yang diterima hanya cukup untuk membeli makan dan rokok.

"Harapan tinggal harapan. Kadang ada, kadang tidak. Yang penting saya masih bisa duduk di sini, menjaga kuda," ujar salah seorang kusir yang enggan disebutkan namanya, ditemui di pinggir jalan raya Negara.

Mengapa Dokar Kian Ditinggalkan Warga?

Kehadiran ojek online, angkutan kota, dan kendaraan pribadi menjadi faktor utama sepinya penumpang dokar. Masyarakat kini lebih memilih moda transportasi yang lebih cepat dan praktis. Dokar yang identik dengan kecepatan lambat dan rute terbatas perlahan kehilangan relevansinya di tengah mobilitas warga yang terus meningkat.

Selain itu, perawatan kuda dan kereta kayu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Para kusir renta mengaku kesulitan secara ekonomi untuk sekadar memberi pakan kuda setiap hari. Beberapa di antara mereka bahkan harus merelakan kudanya beristirahat lebih lama karena tenaganya sudah tidak prima.

Apa Nasib Dokar Jembrana ke Depan?

Tanpa intervensi dari pemerintah daerah atau komunitas pecinta budaya, dokar di Jembrana diprediksi akan benar-benar punah dalam beberapa tahun ke depan. Sejauh ini, belum ada program resmi dari Pemkab Jembrana untuk melestarikan moda transportasi tradisional ini sebagai ikon wisata atau warisan budaya.

Para kusir hanya bisa pasrah. Mereka sadar, zaman telah berubah. Namun, di balik kesunyian trotoar, mereka tetap bertahan—bukan karena harapan besar, melainkan karena dokar dan kuda adalah satu-satunya pekerjaan yang mereka kenal seumur hidup.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: radarbali.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top