Pencarian

Denpasar Kehilangan Kemampuan Serap Air Hujan Akibat Betonisasi, 60 Persen Wilayah Kini Kedap Air

Kamis, 21 Mei 2026 • 15:10:19 WIB
Denpasar Kehilangan Kemampuan Serap Air Hujan Akibat Betonisasi, 60 Persen Wilayah Kini Kedap Air
Permukaan beton di Denpasar menyebabkan 60 persen wilayah menjadi kedap air.

DENPASAR — Kota Denpasar menghadapi paradoks yang kian akut. Di satu sisi, Bali bagian selatan masih menerima curah hujan tinggi, rata-rata sekitar 2.000 milimeter per tahun. Namun di sisi lain, banjir perkotaan makin sering terjadi, kualitas air tanah menurun, dan di wilayah pesisir mulai terdeteksi intrusi air laut.

Fenomena ini bukan soal kekurangan air, melainkan hilangnya kemampuan kota untuk menyimpannya. Permukaan tanah yang dulunya berupa endapan vulkanik permeabel dan ideal untuk infiltrasi, kini sebagian besar tergantikan oleh beton, aspal, dan bangunan.

60 Persen Wilayah Denpasar Kini Kedap Air

Berdasarkan berbagai kajian tata ruang, lebih dari 60 persen wilayah Denpasar saat ini merupakan kawasan terbangun. Artinya, air hujan yang jatuh tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung menjadi limpasan permukaan yang membebani drainase kota.

Kondisi ini menjelaskan mengapa banjir terjadi bahkan saat hujan dengan intensitas yang tidak ekstrem. Air yang dulu bergerak lambat mengisi akuifer, kini mengalir deras menuju sungai dalam waktu singkat. Kapasitas saluran drainase kerap tak mampu menampung lonjakan debit tersebut.

Tukad Mati: Sungai yang Berubah Karakter Drastis

Salah satu titik rawan adalah kawasan Tukad Mati di selatan Denpasar dan Kuta. Secara historis, sungai ini merupakan koridor drainase utama dengan aliran yang cenderung lambat — sesuai namanya, “mati” dalam bahasa Bali sering diasosiasikan dengan aliran yang diam.

Namun di musim hujan, karakternya berubah total. Daerah hilir yang datar membuat air mudah meluap, terutama saat debit meningkat dan pasang laut menghambat aliran keluar menuju pantai. Banjir di Denpasar, kata para ahli, merupakan kombinasi antara perubahan tata guna lahan, sedimentasi sungai, dan penurunan daya serap tanah.

Ancaman di Bawah Permukaan: Intrusi Air Laut Mengintai

Yang lebih mengkhawatirkan terjadi di bawah tanah. Ketika infiltrasi menurun, cadangan air tanah dangkal ikut berkurang. Sementara itu, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan hotel, restoran, dan permukiman di Denpasar Selatan dan Denpasar Barat.

Sumur bor dalam berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Air tanah dipompa terus-menerus, dan jika pengambilan melebihi kemampuan akuifer untuk terisi ulang, maka terbentuklah kerucut penurunan muka air tanah. Dampaknya bisa menjalar: intrusi air laut dan amblesan tanah.

Beberapa penelitian menunjukkan intrusi air asin telah mencapai beberapa kilometer ke arah daratan, terutama di kawasan pesisir Sanur dan Denpasar Selatan. Gejalanya muncul perlahan: rasa air sumur berubah, kadar garam meningkat, dan sumur-sumur warga mulai terasa payau.

Kota Tropis yang Kehilangan Jaring Hidrologi Alami

Secara geomorfologi, Denpasar adalah dataran rendah vulkanik dengan elevasi 0–50 meter di atas permukaan laut. Dalam kondisi alami, lanskap ini ideal untuk proses infiltrasi. Air hujan meresap ke lapisan sedimen vulkanik yang permeabel, mengisi akuifer dangkal, lalu bergerak perlahan ke arah pesisir.

Namun sistem alami itu berubah drastis ketika ruang terbuka hijau digantikan oleh bangunan. Urbanisasi membuat permukaan tanah kehilangan daya serapnya. Kota memiliki banyak air hujan, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk menyimpannya — dan inilah masalah struktural yang harus segera dijawab dalam perencanaan tata ruang Denpasar ke depan.

Bagikan
Sumber: balebengong.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks