BULELENG — Rencana Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk menuntaskan persoalan jalan rusak di sejumlah titik kini menghadapi kendala serius. Harga aspal di pasaran melonjak hingga 50 persen dalam beberapa bulan terakhir, membuat biaya proyek membengkak di luar perkiraan awal.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Buleleng, Putu Kertayasa, mengakui bahwa kenaikan harga material ini berdampak langsung pada realisasi proyek perbaikan jalan. "Kenaikan harga aspal ini cukup signifikan, mencapai 50 persen dari harga sebelumnya," ujarnya kepada wartawan, Senin lalu.
Dengan anggaran yang sudah ditetapkan dalam APBD, Pemkab Buleleng dihadapkan pada dilema. Jika tetap memaksakan penggunaan aspal hotmix dengan spesifikasi standar, volume jalan yang bisa diperbaiki akan berkurang drastis.
Sebagai alternatif, pemerintah daerah tengah mengkaji opsi perubahan spesifikasi teknis. Salah satu skenario yang dibahas adalah mengganti lapisan aspal hotmix dengan rabat beton atau aspal lapis penetrasi (latasir) yang lebih ekonomis. "Kami tidak ingin proyek mandek. Tapi kami juga harus realistis dengan kondisi harga material saat ini," tambah Kertayasa.
Perubahan spesifikasi ini tentu berimbas pada kualitas dan ketahanan jalan. Jalan dengan rabat beton misalnya, memang lebih tahan lama namun proses pengerjaannya lebih lama dan membutuhkan perawatan khusus. Sementara aspal lapis penetrasi memiliki usia pakai lebih pendek dibanding hotmix.
Masyarakat pengguna jalan di Buleleng pun mulai khawatir. Beberapa ruas jalan utama di Kecamatan Sawan dan Kubutambahan yang sudah lama rusak dikhawatirkan akan mendapat penanganan setengah hati. "Yang penting jalan mulus dulu, Pak. Soal spesifikasi, kami serahkan ke ahlinya," ujar Made Suardana, seorang sopir angkutan umum di Singaraja.
Pemkab Buleleng saat ini tengah menghitung ulang kebutuhan anggaran untuk setiap ruas jalan prioritas. Jika perubahan spesifikasi tidak mencukupi, bukan tidak mungkin sejumlah proyek akan ditunda ke tahun anggaran berikutnya.
Kertayasa memastikan bahwa keputusan final akan diambil setelah melalui kajian teknis dan rapat koordinasi dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). "Kami targetkan dalam dua pekan ke depan sudah ada keputusan. Masyarakat mohon bersabar," pungkasnya.
Belum ada kepastian, namun tren kenaikan harga aspal dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan biaya distribusi. Pemkab Buleleng berharap harga bisa stabil dalam waktu dekat agar proyek perbaikan jalan tidak terus tertunda.
Pemkab Buleleng menargetkan perbaikan di puluhan ruas jalan tersebar di delapan kecamatan. Namun, dengan lonjakan harga aspal, jumlah ruas yang bisa diperbaiki tahun ini kemungkinan akan dikurangi atau spesifikasinya diturunkan.
Selain mengubah spesifikasi, Pemkab juga akan mengoptimalkan anggaran pemeliharaan rutin dengan cara menambal lubang-lubang kritis menggunakan aspal dingin (coldmix) yang lebih murah. Langkah ini diharapkan bisa menjaga aksesibilitas warga hingga proyek besar berjalan.