Saham PGEO Jeblok di Bawah Harga IPO, Manajemen PGE Malah Pamer Pendanaan Rp 8,69 Triliun

Penulis: Vino Bastian  •  Selasa, 09 Juni 2026 | 16:10:31 WIB
Saham PGEO turun 21,08% dalam sebulan meski fundamental perusahaan tetap kuat.

BALI — Saham anak usaha PT Pertamina (Persero) ini sudah babak belur dalam sebulan terakhir, terpukul 21,08%. Pelemahan PGEO sejalan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini sudah menyentuh level terendah sejak pandemi Covid-19. IHSG sendiri ambles 20,65% dalam sebulan dan 35,24% secara year to date.

Meski harga saham jeblok, fundamental PGEO justru menunjukkan performa solid. Manajemen melaporkan pendapatan kuartal I 2026 mencapai US$ 116,56 juta, naik 14,8% dibanding periode sama tahun lalu. Laba bersih pun melesat 40% menjadi US$ 43,90 juta.

Modal Segar Rp 8,69 Triliun untuk Tiga Proyek Panas Bumi

Di tengah tekanan bursa, PGEO mengumumkan komitmen pendanaan internasional sebesar US$ 477,87 juta atau setara Rp 8,69 triliun. Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan dana segar itu akan digunakan untuk membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang sudah masuk dalam Green Book 2026 Bappenas.

"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," kata Ahmad Yani dalam keterangan resmi, Senin (8/6).

Rincian pendanaannya sebagai berikut: PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) di Sumatera Selatan mendapat pinjaman US$ 158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan target operasi komersial (COD) pada 2030. PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW) juga mendapat US$ 148,97 juta dari JICA, ditargetkan beroperasi 2032. Sementara PLTP Lahendong Unit 7-8 (50 MW) di Sulawesi Utara dibiayai Bank Dunia senilai US$ 170,04 juta, target COD 2030.

Ketiga proyek ini menggunakan skema on lending berupa concessional loan — pinjaman dengan bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibanding pinjaman komersial. Menurut Ahmad Yani, skema ini menjaga struktur pendanaan tetap sehat dan meningkatkan keekonomian proyek jangka panjang.

Neraca Solid di Tengah Badai Saham

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hutabarat, menambahkan perusahaan tetap mampu menjaga profitabilitas dan arus kas operasional yang solid. Total aset PGEO tercatat US$ 3,06 miliar per Maret 2026, naik 0,71% dibanding akhir 2025. Ekuitas naik 2,23% menjadi US$ 2,09 miliar, sementara kas dan setara kas tumbuh 3,72% menjadi US$ 745,21 juta.

Ketiga proyek panas bumi itu merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) PGEO untuk mengembangkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt. PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatera Selatan juga sudah mengantongi perjanjian jual beli listrik. Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi nasional.

Pertanyaan besar kini: mampulah fundamental kokoh dan proyek strategis ini mengembalikan kepercayaan investor di bursa? Atau tekanan IHSG yang masih dalam tren bearish akan terus menggerus harga saham PGEO?

Reporter: Vino Bastian
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top