TABANAN — Perhelatan dua hari yang berlangsung hingga Minggu (21/6) ini tidak sekadar panggung budaya. Bupati Sanjaya menegaskan festival dirancang sebagai motor penggerak ekonomi warga, dari petani hingga perias pengantin.
“Ketika banyak orang datang ke Desa Jatiluwih, tentu berdampak terhadap ekonominya, berdampak kepada pariwisata, semua,” kata Sanjaya di Tabanan, Sabtu.
Menurut Sanjaya, dampak langsung sudah terasa di sektor pertanian. Beras dan hasil bumi petani laku keras dibeli wisatawan dan peserta festival. Warung makan, restoran, hingga usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mengolah produk lokal kebanjiran pesanan.
“Seluruh masyarakat berbagai bidang memperoleh dampak ekonomi dari ajang ini,” ujarnya. Para penari yang tampil juga membutuhkan jasa tata rias warga, sementara seniman dekorator mendapat pekerjaan menghias kawasan Jatiluwih.
Ketua Panitia Festival Jatiluwih John Ketut Purna mengungkapkan, gelaran Bali Tourism Run menjadi katalis utama. Dari total 2.000 peserta lari, mayoritas menginap di homestay dan hotel sekitar Jatiluwih.
“Biasanya okupansi di bawah 50 persen, hari ini hampir menyentuh 100 persen. Semua hotel, penginapan, homestay warga penuh,” kata John.
Ia menambahkan, lonjakan kunjungan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk beradaptasi. Sebelumnya, wisatawan domestik hanya 10 persen dari total kunjungan. Kini, rasio tamu lokal dan mancanegara berimbang 50:50.
Bupati Sanjaya menekankan bahwa festival bukan ajang kompetisi. “Bukan kita mengejar penghargaan, tapi bagaimana memberi dampak untuk masyarakat yang paling bawah,” tegasnya.
Sepanjang dua hari, pengunjung disuguhi panorama sawah berundak khas Subak Jatiluwih—sistem irigasi tradisional yang diakui UNESCO—ditambah pameran UMKM, aktivitas pertanian, dan lari santai melintasi pematang sawah.