Tokoh Seni Bali Ajak Generasi Muda Berkreasi Tanpa Putus Tradisi, Inovasi Harus Tumbuh dari Akar Budaya

Penulis: Yanto Prasetya  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 11:15:01 WIB
Dr Anak Agung Gede Agung Rahma Putra mengajak generasi muda Bali berkreasi dengan inovasi berakar pada tradisi.

DENPASAR — Dr Anak Agung Gede Agung Rahma Putra menegaskan bahwa kreativitas anak muda menjadi kunci menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah arus modernisasi. Namun, ia mengingatkan agar inovasi yang lahir tidak memutus rantai tradisi, melainkan tumbuh dari nilai-nilai warisan leluhur.

“Kreativitas generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah derasnya perkembangan zaman, namun inovasi yang lahir tidak boleh memutus akar tradisi, melainkan harus tumbuh dari nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ucapnya di Denpasar, Kamis.

Dari Kritik Keras hingga Refleksi Mendalam

Ajakan ini berangkat dari pengalaman pribadi Agung Rahma. Pada 2012, ia mendirikan komunitas seni Pancer Langit sebagai ruang alternatif bagi generasi muda untuk bereksplorasi di tengah dominasi sanggar tari tradisional.

Saat itu, karya inovatifnya yang fokus pada eksplorasi busana justru mendapat kritik pedas. Karya tersebut disebut sebagai "sampah" oleh kalangan pencinta seni tradisi saat ditampilkan di Pesta Kesenian Bali. Momen itu menjadi titik balik yang membentuk cara pandangnya.

“Dari pengalaman itu saya memahami bahwa berinovasi bukan berarti melepaskan diri dari tradisi, tradisi adalah identitas yang harus dijaga, sedangkan inovasi adalah ruang kreativitas yang membuat seni tetap hidup dan berkembang,” ujar Agung Rahma.

Konsep Desa, Kala, Patra sebagai Kompas Karya

Dalam setiap proses penciptaan, Agung Rahma selalu berpegang pada konsep desa, kala, patra—tempat, waktu, dan konteks sosial. Seorang seniman, menurutnya, harus memahami di mana karya dipentaskan, kapan disajikan, serta latar belakang sosialnya agar tetap relevan dan bermakna.

Ia meyakini masa depan seni Bali terletak pada kemampuan menjembatani tradisi, idealisme, dan hiburan agar saling menguatkan. Bukan saling meniadakan.

Teknologi Digital Bukan Ancaman, tapi Alat Bantu

Komposer sekaligus akademisi seni I Wayan Ary Wijaya menambahkan perspektif lain. Ia menyoroti peran teknologi digital dalam proses penciptaan karya tanpa harus menghilangkan identitas budaya.

“Teknologi bukan ancaman bagi tradisi, melainkan alat bantu yang mempercepat proses kreatif sekaligus membuka peluang lahirnya gagasan-gagasan baru, pengaruh budaya luar yang masuk dapat disaring melalui visi berkesenian yang tetap berlandaskan nilai-nilai tradisi Bali,” katanya.

Berbekal pengalaman mengajar sejak 1996 hingga 2020, Ary melihat inovasi lahir dari keinginan keluar dari stagnasi. Namun, karya baru tidak selalu langsung diterima masyarakat. “Yang penting bukan sekadar berbeda, tetapi bagaimana seniman terus berkarya dan melahirkan pembaruan tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi jati dirinya,” ucapnya.

Antusiasme Anak Muda di PKB 2026: Penari Barong Tumbuh Masif

Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali Nyoman Winata mengapresiasi semangat generasi muda. Menurutnya, perkembangan dunia seni Bali saat ini menunjukkan tanda menggembirakan, terlihat dari tingginya antusiasme mengikuti berbagai lomba dan kegiatan seni selama PKB 2026.

“Dulu siapa yang mau menarikan barong kecuali pemangku, sekarang anak-anak muda luar biasa antusias, penari barong tumbuh sangat masif, begitu pula pemain gender, anak-anak sekarang hebat-hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa,” kata dia.

Winata optimistis seni inovatif akan terus melahirkan seniman muda berbakat yang mampu membawa seni Bali berkembang mengikuti tuntutan zaman, tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: bali.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top