Pencarian

Komunitas Ni Pollok Denpasar Hidupkan Legong Klasik Kelandis, Warisan 1930-an Tampil di PKB 2026

Jumat, 26 Juni 2026 • 22:05:17 WIB
Komunitas Ni Pollok Denpasar Hidupkan Legong Klasik Kelandis, Warisan 1930-an Tampil di PKB 2026
Komunitas Ni Pollok membawakan Legong Klasik Kelandis dalam PKB XLVIII di Denpasar.

DENPASAR — Ribuan pasang mata tak beranjak dari area panggung saat Komunitas Seni Ni Pollok membawakan rekonstruksi Legong Keraton Lasem khas Kelandis di PKB XLVIII. Penonton yang terdiri dari seniman, budayawan, akademisi, hingga wisatawan asing menyaksikan langsung kebangkitan salah satu warisan tari Bali yang lama terpendam.

Pementasan yang digelar di Rekasadana PKB itu bukan sekadar pertunjukan biasa. Komunitas Ni Pollok menghadirkan kembali Legong klasik yang pernah dipopulerkan penari legendaris Ni Pollok pada era 1930-an, dengan tetap mempertahankan pakem, kekuatan ekspresi, serta penafsiran cerita Raden Panji yang mendekati bentuk aslinya.

Keunikan Legong Kelandis: Rangda di Bagian Penutup

Yang membedakan Legong versi Kelandis dari Legong Lasem pada umumnya terletak pada struktur pertunjukan. Jika versi standar diakhiri dengan kemunculan tokoh Garuda atau struktur gedong, versi Kelandis justru menghadirkan sosok Rangda di bagian penutup.

Berdasarkan hasil penelitian, kehadiran Rangda bukan sekadar variasi dramatik. Sosok tersebut memiliki makna teologis dan psikologis yang memperkuat alur cerita. Ida Ayu Gede Sastrani Widiastuti, penata tari, menjelaskan bahwa Rangda dalam pementasan ini merupakan simbol puncak kekuatan magis sekaligus kemarahan Raden Inukertapati.

Maestro Beri Apresiasi: Gaya Kembali ke Era 1930-an

Kurator PKB, Prof. Dr. I Made Bandem, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya rekonstruksi ini. Menurutnya, capaian tersebut penting dalam mengembalikan estetika Legong klasik tanpa menghilangkan nilai sakral yang melekat.

“Mereka berhasil merekonstruksi dan merevitalisasi Legong Klasik Lasem Kelandis. Gayanya sudah kembali pada gaya tahun 1930-an. Selamat kepada para penari maupun penabuh yang telah menghidupkan kembali warisan seni ini,” ujarnya.

Maestro tari Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, juga terkesan dengan kekhasan garapan, terutama iringan tabuh bernuansa janger yang menjadi identitas pembeda. “Variasi seperti ini membuat PKB semakin kaya dan tidak monoton,” katanya.

Teknik Tari Ni Pollok: Enerjik, Lentur, dan Tajam

Pementasan ini berhasil menghidupkan kembali teknik tari khas Ni Pollok yang terkenal enerjik namun tetap lentur. Gerak tubuh yang kuat, bahu luwes, langkah kaki ngumbang, sledet yang tajam tanpa berlebihan, hingga teknik nyregseg dan nguntang laras menjadi ciri utama yang berhasil direkonstruksi.

Proses rekonstruksi dilakukan melalui riset dan dokumentasi arsip secara mendalam. Kadek Sandra Widari, Koordinator Komunitas Ni Pollok, menjadi sosok kunci di balik keberhasilan ini. Ia pernah menerima pelatihan langsung dari Ni Pollok semasa hidup, kemudian memperkuat pemahaman teknik tari melalui dokumentasi video serta penelitian mendalam.

Rangkaian Pertunjukan dan Makna di Baliknya

Pementasan diawali tabuh pembuka, dilanjutkan penampilan Barong dan tabuh karawitan, sebelum ditutup dengan rekonstruksi Legong Keraton Lasem khas Kelandis. Kehadiran sosok Rangda memperkuat nuansa mistis sekaligus menghadirkan taksu yang kuat dalam keseluruhan pertunjukan.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, garapan ini menjadi ikhtiar menghidupkan kembali warisan budaya Bali. Komunitas Ni Pollok menegaskan bahwa seni tradisi mampu terus berdenyut dan diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan roh serta nilai luhur yang dikandungnya.

Bagikan
Sumber: baliprawara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks