Pencarian

Komunitas Seni Nyenit-Nyenir Tampil Memukau di PKB 2026, Angkat Filosofi Wong Samar dari Desa Sulangai

Jumat, 26 Juni 2026 • 22:05:29 WIB
Komunitas Seni Nyenit-Nyenir Tampil Memukau di PKB 2026, Angkat Filosofi Wong Samar dari Desa Sulangai
Komunitas Seni Nyenit-Nyenir dari Desa Sulangai tampil di PKB 2026 dengan empat garapan seni.

DENPASAR — Puluhan seniman dari Komunitas Seni Nyenit-Nyenir, Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, unjuk kebolehan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (25/6) pukul 18.00. Mereka menjadi Duta Kabupaten Badung dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Penampilan mereka mengusung tema besar PKB tahun ini, Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang bermakna memuliakan jiwa paripurna. Empat garapan ditampilkan, mulai dari Tabuh Klasik Sekar Taman, Tabuh Kreasi, hingga dua tarian, yaitu Tari Legong Kreasi berjudul Wang Amuha dan Tari Jauk Longor. Sambutan hangat dari penonton yang memadati gedung mengiringi setiap pertunjukan.

Filosofi Wong Samar: Menghormati Makhluk Tak Kasat Mata

Ketua Komunitas Seni Nyenit-Nyenir, I Made Yudiarta, menjelaskan bahwa penampilan mereka sarat pesan spiritual. Kearifan lokal dari Desa Sulangai menjadi fondasi garapan, terutama cerita tentang Wong Samar.

"Kami mengangkat cerita terkait Wong Samar sebagai bentuk pemuliaan terhadap percikan kecil Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang juga mendiami makhluk-makhluk yang tidak kasat mata," ujar Yudiarta. Menurutnya, konsep ini sangat relevan dengan tema Atma Kerthi yang diusung PKB.

Fokus utama garapan adalah Tari Legong Kreasi Wang Amuha. Karya ini ingin menyampaikan pesan tentang penghormatan terhadap seluruh ciptaan Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. "Esensinya adalah menjaga keharmonisan hubungan dengan seluruh ciptaan-Nya," tambahnya.

Persiapan Lima Bulan dan Tantangan Kreatif

Untuk penampilan ini, komunitas melibatkan sekitar 50 orang, mulai dari penabuh, penari, pembina, hingga kru panggung. Proses persiapan berlangsung selama lima bulan, sejak Februari lalu.

Pembina tabuh iringan tari, I Wayan Sumayasa, mengungkapkan tantangan terbesar adalah menerjemahkan konsep abstrak ke dalam musik dan gerak tari yang harmonis. "Kami membicarakan sesuatu yang tidak terlihat, sehingga proses menuangkan ide ke dalam iringan menjadi cukup sulit," jelasnya.

Ketidakcocokan antara gerak tari dan iringan tabuh kerap terjadi selama latihan. Sumayasa mengatakan proses penyempurnaan dilakukan berulang kali hingga keduanya bisa menyatu secara utuh di atas panggung.

Dukungan Pemkab Badung untuk Seni Budaya

Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Made Adi Adnyana, menyatakan apresiasi terhadap penampilan tersebut. Pemerintah Kabupaten Badung, menurutnya, terus mendorong perkembangan seni dan budaya di daerah.

"Salah satu wadah terbesarnya adalah Pesta Kesenian Bali yang diselenggarakan setiap tahun," katanya. Ia menegaskan komitmen Pemkab Badung dalam pelestarian budaya melalui berbagai dukungan kepada para seniman yang tampil di ajang bergengsi seperti PKB.

Bagikan
Sumber: balinetizen.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks