DENPASAR — Eka Prasetya, jurnalis Jawa Pos Radar Bali, menjadi salah satu peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) di Beijing, Tiongkok. Program ini dirancang untuk mempertemukan jurnalis global dengan praktisi media dan pakar komunikasi Tiongkok.
Selama di Beijing, Eka mengunjungi sejumlah kantor berita nasional Tiongkok, termasuk China Daily dan Xinhua. Ia juga mengikuti sesi diskusi dengan akademisi dari Communication University of China yang membahas transformasi media digital di era kecerdasan buatan.
“Kami diajak melihat langsung bagaimana teknologi AI digunakan dalam produksi konten berita. Ini pengalaman yang membuka wawasan, terutama soal efisiensi dan akurasi,” ujar Eka dalam catatan perjalanannya.
Program CIPCC juga memberikan materi tentang sistem distribusi konten di platform digital Tiongkok. Peserta mempelajari bagaimana algoritma dan regulasi pemerintah setempat memengaruhi pola konsumsi berita masyarakat.
Eka menambahkan, perbedaan pendekatan antara media Indonesia dan Tiongkok cukup mencolok, terutama dalam hal kurasi konten dan kebijakan penyebaran informasi. “Regulasi di sini sangat ketat, tapi efisien dalam mengelola arus informasi. Kami bisa mengambil pelajaran untuk pengelolaan media daerah,” katanya.
Selain teori, peserta CIPCC diajak praktik langsung di studio siaran dan laboratorium media milik China Daily. Mereka mencoba simulasi produksi berita televisi dan podcast menggunakan peralatan standar internasional.
Eka mengaku terkesan dengan kesiapan infrastruktur media Tiongkok. “Laboratorium mereka lengkap, dari kamera 4K hingga sistem editing berbasis cloud. Ini jadi inspirasi untuk pengembangan media di daerah,” tuturnya.
Program CIPCC berlangsung selama dua pekan dan diikuti oleh 45 jurnalis dari 30 negara. Eka berharap pengalaman ini bisa memperkuat jaringan internasional Jawa Pos Radar Bali serta meningkatkan kualitas liputan di tingkat lokal.
“Koneksi dengan jurnalis dari negara lain sangat berharga. Kami bisa saling bertukar ide tentang cara meliput isu-isu global dari perspektif daerah,” pungkasnya.