Kegiatan ngayah atau kerja bakti massal di Pura Sakenan telah berlangsung sejak sepekan terakhir. Umat bahu-membahu menata pelinggih, memperbaiki anyaman bambu, hingga merapikan taman di halaman pura. Tradisi ini bukan sekadar persiapan fisik, melainkan bentuk pengabdian spiritual menjelang hari suci.
Panitia juga menggelar lomba penjor yang diikuti perwakilan dari 12 desa adat di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Ajang ini menjadi wadah kreativitas merangkai janur, buah, dan umbi-umbian yang menjulang tinggi di depan pura. “Penjor bukan hanya hiasan, tapi simbol rasa syukur kepada Tuhan,” ujar salah satu pengurus Pura Sakenan.
Hari Raya Kuningan tahun ini jatuh pada Sabtu, 27 Juni 2026, sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan. Umat Hindu percaya bahwa pada hari tersebut para leluhur dan dewa-dewi kembali ke kahyangan setelah menerima persembahan selama masa Galungan.
Pura Sakenan merupakan salah satu pura penting di kawasan pesisir selatan Bali. Setiap menjelang piodalan dan Kuningan, ribuan umat dari berbagai daerah datang untuk bersembahyang. Panitia memperkirakan jumlah umat yang hadir pada puncak acara bisa mencapai ribuan orang.
Pemerintah Desa Serangan bersama pihak kepolisian mulai menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar Jalan Tukad Punggawa dan akses menuju pura. Langkah ini untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan yang kerap terjadi saat puncak perayaan. Beberapa posko pengamanan dan pelayanan kesehatan juga akan didirikan mulai H-2 Kuningan.
Bendesa Adat Serangan mengimbau umat yang datang agar menjaga kebersihan dan ketertiban selama prosesi berlangsung. “Kami juga meminta warga membawa perlengkapan sembahyang sendiri untuk mengurangi antrean di pura,” tambahnya.