DENPASAR — IHSG dibuka jatuh 1,1 persen ke posisi 5.700-an, level yang terakhir kali disentuh pada masa pandemi. Tekanan jual investor asing masih mendominasi sejak awal sesi perdagangan. Kondisi ini langsung berdampak pada portofolio investor ritel di Bali yang cukup aktif di pasar modal.
Pelemahan IHSG pagi ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang masih agresif. Data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan membuat dolar AS kembali perkasa, sementara rupiah tertekan ke level Rp 16.250 per dolar AS. Sentimen ini langsung direspons negatif oleh bursa Asia, termasuk Indonesia.
Bagi investor di Bali, penurunan IHSG ke level psikologis 5.700 berarti nilai aset saham yang mereka pegang terkoreksi signifikan. Banyak investor ritel di Denpasar dan Badung yang mengandalkan saham perbankan dan konsumer mengalami kerugian posisi. "Saya jual sebagian portofolio tadi pagi, takut makin dalam," ujar seorang investor asal Renon yang enggan disebut namanya.
Analis memperkirakan IHSG masih akan volatil dalam pekan ini. Level support kunci berada di 5.650. Jika tembus, potensi koreksi lebih dalam terbuka. Namun, jika ada intervensi dari Bank Indonesia atau sentimen positif dari data inflasi domestik, IHSG berpotensi bangkit menuju level 5.800. Investor diimbau tidak panik dan memantau pergerakan rupiah secara ketat.
Pelemahan IHSG ini menjadi alarm bagi investor daerah untuk lebih selektif memilih saham dan tidak terjebak aksi beli panik. Pasar modal Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan kebijakan suku bunga global.