BALI — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, tidak puas hanya menjadi raksasa media sosial. Menurut laporan Bloomberg, Rabu (pekan lalu), Meta tengah mengembangkan rencana untuk membuka lini bisnis cloud infrastructure. Mereka akan menjual akses ke daya komputasi kecerdasan buatan (AI) dan model AI miliknya.
Langkah ini secara langsung menempatkan Meta di jalur yang sama dengan tiga pemain besar cloud: Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, dan Microsoft Azure. Bedanya, Meta belum memiliki basis pelanggan korporasi sebesar ketiganya.
Investasi Triliunan Rupiah, Kini Dicari Untungnya
Keputusan ini muncul setelah Meta menggelontorkan dana fantastis untuk infrastruktur AI. Hingga akhir kuartal pertama tahun ini, Meta telah berkomitmen mengeluarkan USD 182,9 miliar (sekitar Rp 3.017 triliun) untuk pembangunan pusat data dalam beberapa tahun ke depan.
Proyek raksasa sedang berlangsung di Louisiana dan Ohio. Pusat data di Ohio, yang oleh CEO Mark Zuckerberg disebut akan seluas Manhattan, dijadwalkan beroperasi tahun ini.
Masalahnya, tidak seperti Google atau OpenAI, Meta belum melihat permintaan signifikan untuk model dan layanan AI-nya sendiri. Pendapatan dari Meta AI atau keluarga model Llama tidak diungkap secara terpisah dalam laporan keuangan. Sejauh ini, eksekutif Meta lebih banyak menyoroti penggunaan internal AI untuk efisiensi perusahaan.
Meniru Model CoreWeave dan AWS
Untuk mendapatkan kembali sebagian dari investasi kolosal itu, Meta disebut akan meniru model bisnis CoreWeave: menjual akses ke kapasitas komputasi "mentah". Bloomberg juga melaporkan Meta mempertimbangkan untuk mengikuti jejak AWS dengan menjual akses ke berbagai model AI—termasuk model terbaru bersifat tertutup (closed-weight) bernama Muse Spark—yang dihosting di infrastruktur mereka.
Lini bisnis baru ini akan berada di bawah inisiatif yang diberi nama sementara Meta Compute. Proyek ini dipimpin oleh kepala infrastruktur Santosh Janardhan, pemimpin Meta Superintelligence Labs Daniel Gross, dan presiden Dina Powell McCormick.
Sinyal Pemenang Perlombaan AI
Langkah Meta mengikuti jejak SpaceX yang, melalui xAI, mengumumkan rencana serupa pada awal Mei. SpaceX menandatangani kontrak dengan Anthropic untuk membeli seluruh kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1 milik SpaceX. Sejak itu, SpaceX juga meneken sewa serupa dengan Google dan Reflection AI.
Fakta bahwa Meta melakukan hal yang sama menjadi sinyal: pemenang perlombaan AI mungkin bukan pihak yang menyediakan model dan layanan terbaik, melainkan mereka yang memiliki pusat data. Tentu, asumsi ini hanya berlaku jika permintaan komputasi terus bertahan dan nilai pusat data tidak anjlok.
Beberapa pihak skeptis memperingatkan bahwa perlombaan membangun infrastruktur AI sedang menciptakan gelembung yang bergantung pada chip yang nilainya cepat menyusut. Yang lain mempertanyakan apakah perusahaan AI bisa menghasilkan pendapatan pengguna akhir yang cukup untuk membenarkan taruhan triliunan dolar.
Komentar Zuckerberg dan Langkah Selanjutnya
Laporan ini mengonfirmasi pernyataan Zuckerberg pada Mei lalu. Saat itu, ia mengatakan bisnis cloud computing Meta "pasti ada di atas meja" sebagai cara untuk mendapatkan imbal hasil dari investasi besar dalam strategi mengembangkan "superintelligence" AI.
TechCrunch telah menghubungi Meta untuk meminta komentar, namun belum ada tanggapan resmi hingga berita ini diturunkan. Bagi pengguna korporasi di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati—bisa jadi dalam waktu dekat, kapasitas komputasi AI kelas kakap bisa disewa tanpa harus bergantung pada tiga penyedia cloud yang sudah mapan.