Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menyebut pembangunan PSEL bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah nasional. Menurutnya, pengelolaan sampah sejak dari sumber tetap jadi prioritas yang berjalan beriringan.
Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah sedikitnya 1.200 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Sementara sisa sampah yang tidak terolah akan ditangani lewat pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
Saat ini, timbulan sampah di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Lebih dari 72 persen di antaranya masih berakhir di TPA Suwung yang sudah kelebihan kapasitas.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut pembangunan PSEL di Bali sebagai hari bersejarah. Ini merupakan program pertama Danantara di bidang waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi.
"Tentunya pada pagi hari ini menurut kami adalah hari yang sangat bersejarah karena pertama kali di dalam program Danantara terkait waste to energy atau PSEL ini ground breaking pertama di Bali," ungkap Rosan dalam keterangan yang diterima tvrinews.
Ia menambahkan, arahan Presiden Prabowo menegaskan bahwa persoalan sampah adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secepat mungkin.
Menteri Jumhur memproyeksikan ke depan akan ada 34 aglomerasi PSEL yang meng-cover sekitar 60 hingga 70 kabupaten/kota di Indonesia. Namun, ia mengingatkan masih ada sekitar 480 kabupaten/kota yang timbulan sampahnya di bawah 1.000 ton per hari dan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama KLH.
"PSEL ini yang terdata di kami kira-kira kedepannya ada 34 aglomerasi yang meng-cover sekitar 60–70 kabupaten/kota di Indonesia. Sehingga alhamdulillah dengan PSEL ini setidaknya 60–70 kabupaten/kota selesai masalah sampahnya," kata Jumhur.
Bagi daerah dengan volume sampah lebih kecil, pemerintah akan mendorong pengelolaan dari sumber, penerapan ekonomi sirkular, serta teknologi yang disesuaikan karakteristik masing-masing wilayah.
Selain mengurangi timbunan sampah dan menghasilkan energi terbarukan, proyek ini diperkirakan mampu menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau (green jobs). Dampak lainnya adalah penekanan emisi karbon dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi hijau.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi pemerintah pusat dan berbagai pihak. Ia berharap proyek berjalan lancar dan bisa selesai tepat waktu, bahkan lebih cepat dari target.
KLH/BPLH menargetkan PSEL di Bali bisa menjadi model pengelolaan sampah perkotaan yang modern dan berkelanjutan. Fasilitas ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir, menekan emisi gas rumah kaca, serta memperkuat ketahanan energi bersih di Pulau Dewata.