Buleleng Kenang Maestro I Nyoman Suma Argawa Lewat Buku Biografi "Penjaga Rupa Utara", Begini Proses Kreatifnya

Penulis: Yanto Prasetya  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 19:00:01 WIB
Para peserta forum grup diskusi menyusun buku biografi "Penjaga Rupa Utara" di kediaman almarhum I Nyoman Suma Argawa, Desa Bungkulan, Buleleng.

BULELENG — Rumah di pesisir utara Bali itu kembali ramai. Bukan oleh suara pahat atau aroma cat, melainkan oleh orang-orang yang datang membawa kenangan. Mereka duduk melingkar di kediaman almarhum I Nyoman Suma Argawa, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, untuk merangkai kembali jejak seorang seniman yang sepanjang hidupnya memilih setia pada karakter visual Buleleng.

Pertemuan itu merupakan forum grup diskusi (FGD) dalam rangka penyusunan buku biografi berjudul Penjaga Rupa Utara. Forum ini menjadi ruang untuk membedah cara berpikir, proses berkarya, dan kegelisahan yang menghidupi setiap karya almarhum.

Buku Biografi sebagai Ekosistem Pelestarian Budaya

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Bali, Iskandar Eko Priyotomo, mengatakan bahwa merawat kebudayaan bukanlah pekerjaan satu orang atau satu lembaga. Menurutnya, penyusunan buku biografi ini adalah bentuk kolaborasi membangun ekosistem agar generasi muda mengenal tokoh besar dari daerahnya sendiri.

“Budaya harus dikerjakan bersama. Buku ini menjadi salah satu cara membangun ekosistem agar generasi muda mengenal tokoh-tokoh besar yang lahir dari daerahnya sendiri,” ujarnya.

Iskandar menekankan bahwa yang paling berharga dari seorang maestro bukan hanya karya jadi, melainkan proses panjang di baliknya. Bagaimana gagasan muncul, bagaimana pengalaman hidup diolah menjadi bentuk, hingga akhirnya menjadi warisan.

Bahasa Visual yang Berani: Antara Dekoratif, Ekspresionisme, dan Kubisme

I Ketut Supir, yang membaca karya-karya I Nyoman Suma Argawa sebagai bahasa visual, melihat lukisan sang maestro memadukan gaya dekoratif, ekspresionisme, dan kubisme. Namun, semua tetap berpijak pada tema lokal seperti Barong, Rangda, Trimurti, Dewata Nawa Sanga, hingga figur mitologi Bali.

Yang menarik, kata Supir, adalah keberanian menggunakan warna-warna cerah dan kontras yang jarang ditemukan dalam tradisi seni rupa Bali Selatan. “Suma pernah mengatakan, kita boleh belajar teknik ke Bali Selatan, tetapi jangan membawa rohnya. Roh Buleleng harus tetap dijaga,” kata Supir.

Dari Topeng hingga Batu Apung: Medium yang Terus Bereksplorasi

Kadek Abdhi Yasa, dosen Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu Institut Mpu Kuturan, pertama kali mengenal almarhum lewat video tari topeng di media sosial. Pertemuan langsung terjadi pada 2020 saat mendampingi mahasiswanya mewawancarai I Nyoman Suma Argawa untuk mata kuliah Seni Sakral.

“Saya datang ingin belajar topeng. Ternyata saya menemukan sosok yang menguasai begitu banyak bidang seni,” kenangnya.

Abdhi melihat bagaimana almarhum mengeksplorasi berbagai medium. Di rumahnya tersimpan topeng, lukisan, ukiran, hingga karya spiritual. Ia juga mengenang bahwa pada masa itu I Nyoman Suma Argawa memilih memusatkan hidupnya pada tiga bidang: melukis, membuat topeng, dan menarikan topeng. “Karya saya pertama-tama adalah untuk saya sendiri,” kenang Abdhi mengutip pesan almarhum.

Cerita lain datang dari I Gusti Bagus Nyoman Sura Adnyana, murid sekaligus pengukir gaya Buleleng. Ia mengenang almarhum sebagai guru yang mengenalkannya pada tari dan seni ukir sejak SMP. Menurut Sura Adnyana, almarhum termasuk orang yang melihat potensi batu apung sebagai media seni. Material yang sebelumnya hanya dianggap tanah urug itu diolah menjadi ukiran bernilai artistik tinggi.

Ia menjelaskan karakter ukiran Bali Utara yang berbeda dengan daerah lain. Ukiran pada candi-candi di Buleleng cenderung asimetris, dinamis, dan tidak menggunakan karang gajah seperti di Bali Selatan. Sebagai gantinya, muncul figur yaksa atau raksasa yang memberi kesan bergerak dan saling berkomunikasi. “Semua daerah memiliki keunggulannya masing-masing. Tetapi Bali Utara punya karakter yang khas dan perlu terus dijaga,” ujarnya.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: tatkala.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top