BULELENG — SMP Negeri 2 Singaraja tidak hanya mengejar prestasi di papan atas lomba karya tulis ilmiah nasional, tetapi juga serius membangun karakter siswa dan budaya sekolah yang aman. Kepala sekolah I Gede Someada menegaskan seluruh program mengacu pada visi menciptakan lulusan berprestasi, berbudi pekerti luhur, dan berwawasan lingkungan.
“Kami selalu berpatokan pada visi sekolah, yaitu menciptakan lulusan yang berprestasi, berbudi pekerti luhur, dan berwawasan lingkungan. Dari visi itulah seluruh program sekolah kami susun bersama untuk mendukung perkembangan peserta didik secara utuh,” ujarnya di ruang kerja, Rabu (15/7/2026).
Untuk mencapai target itu, sekolah mengoptimalkan tiga jalur pembelajaran: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pada jalur intrakurikuler, SMP Negeri 2 Singaraja menerapkan pendekatan deep learning yang menyesuaikan model pembelajaran dengan karakteristik mata pelajaran, materi, dan kebutuhan peserta didik.
Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler dirancang berdasarkan minat dan bakat siswa. Pembinaan intensif dari para guru disiapkan untuk mengantar siswa berlaga di berbagai ajang perlombaan, baik akademik maupun nonakademik.
Hasilnya mulai terlihat. Di bidang akademik, SMP Negeri 2 Singaraja berhasil meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional yang digelar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar selama dua tahun berturut-turut. Piala bergilir pun resmi menjadi milik sekolah. Pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar), siswa-siswi perwakilan Kabupaten Buleleng juga menyabet medali emas, perak, dan perunggu.
Pembentukan karakter tidak kalah mendapat perhatian. Melalui kegiatan kokurikuler, sekolah menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan kepedulian sosial. Sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri, budaya cinta lingkungan juga digalakkan dengan mengajak seluruh warga sekolah menjaga kebersihan dan kelestarian area belajar.
“Kami tidak hanya mendidik kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar memiliki perilaku yang baik serta mencintai lingkungan. Lingkungan sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar,” jelas Someada.
Untuk menekan kasus perundungan, sekolah telah menyusun mekanisme pencegahan dan penanganan. Siswa didorong melapor kepada guru BK, wali kelas, atau guru lain jika mengalami atau mengetahui tindakan bullying. Penanganan dilakukan melalui pendampingan guru BK, wali kelas, kesiswaan, hingga melibatkan orang tua lewat komunikasi, pemanggilan, atau kunjungan ke rumah.
“Dengan kolaborasi antara sekolah dan keluarga, kami berharap kasus bullying dapat terus ditekan,” tegasnya.
Melalui kombinasi pendekatan pembelajaran modern, pembinaan bakat, dan lingkungan yang aman, SMP Negeri 2 Singaraja optimistis mampu mencetak generasi yang unggul dalam prestasi, berkarakter kuat, dan peduli lingkungan.