BALI — Gelar juara Piala Dunia 2026 melengkapi rentetan sukses De la Fuente bersama La Roja. Sebelumnya, ia sudah mempersembahkan trofi UEFA Nations League 2022/2023 dan Euro 2024. Capaian ini kontras dengan latar belakang klubnya yang jauh dari gemerlap.
De la Fuente memulai perjalanan di tim nasional Spanyol pada 2013, menangani berbagai kelompok umur. Sebelum itu, ia sempat dipecat setelah hanya 11 pertandingan di divisi ketiga bersama Deportivo Alaves.
Dedikasinya pada pembinaan usia muda membuahkan hasil nyata. Pada 2015, ia membawa Spanyol U-19 juara Kejuaraan Eropa U-19 UEFA. Empat tahun berselang, giliran tim U-21 yang ia antarkan meraih gelar Kejuaraan Eropa U-21 UEFA pada 2019.
Kisah De la Fuente memiliki kemiripan dengan Lionel Scaloni. Pelatih Argentina itu juga tidak memiliki pengalaman klub elite sebelum sukses besar. Scaloni sempat melatih tim U-20 Argentina sebelum memimpin tim senior ke puncak.
Ia membawa Argentina juara Copa America 2021, lalu Piala Dunia 2022. Scaloni melanjutkan dominasinya dengan gelar Finalissima 2022 dan Copa America 2024, sebelum akhirnya takluk dari De la Fuente di final Piala Dunia 2026.
Fenomena ini bukan hal baru. Joachim Low, arsitek kemenangan Jerman di Piala Dunia 2014, memiliki rekam jejak klub yang biasa-biasa saja. Ia pernah melatih VfB Stuttgart, Fenerbahçe, Karlsruher SC, Adanaspor, Tirol Innsbruck, dan Austria Wien sebelum memegang tim nasional.
Franz Beckenbauer bahkan mengambil alih Jerman Barat pada 1984 tanpa pengalaman melatih sama sekali. Legenda sepak bola Jerman itu justru sukses membawa timnya juara Piala Dunia 1990. Enzo Bearzot, pelatih Italia kala juara Piala Dunia 1982, juga hanya punya pengalaman sebagai asisten pelatih di Torino dan menangani tim U-23 Italia.