Pencarian

Kredit BRI Tumbuh 16,2 Persen Jadi Rp1.646 Triliun, Rasio Kredit Macet Ikut Turun

Senin, 07 September 2026 • 08:48:02 WIB
Kredit BRI Tumbuh 16,2 Persen Jadi Rp1.646 Triliun, Rasio Kredit Macet Ikut Turun
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menyampaikan paparan kinerja perseroan di Jakarta, Senin (31/8).

BALI — Pertumbuhan kredit BRI tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya volumenya, melainkan kualitas dari setiap kredit yang disalurkan. Indikator risiko seperti Loan at Risk (LaR) dan biaya risiko (Cost of Credit) juga kompak menunjukkan perbaikan sepanjang semester pertama tahun ini.

Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja menerapkan strategi pertumbuhan selektif. Artinya, ekspansi tidak dilakukan secara serampangan, melainkan diarahkan ke segmen, sektor, dan debitur dengan profil risiko yang terukur sejak awal.

“Pertumbuhan kredit dan pembiayaan BRI pada Triwulan II 2026 berada di atas industri perbankan dan diikuti dengan perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan. Hal ini mencerminkan bahwa ekspansi yang kami lakukan tetap berjalan secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Ety dalam paparan kinerja di Jakarta, Senin (31/8).

Rasio Risiko Membaik di Tengah Ekspansi

Perbaikan kualitas aset terlihat dari beberapa indikator utama. Rasio NPL turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen di akhir Triwulan II 2026. Sementara itu, rasio LaR yang menjadi indikator risiko lebih dini juga membaik dari 9,6 persen pada akhir 2025 menjadi 9,1 persen.

Penurunan LaR ini penting karena mencerminkan kualitas kredit baru yang disalurkan BRI lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, biaya risiko perseroan ikut turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. Artinya, beban yang harus disisihkan untuk cadangan kerugian semakin kecil seiring portofolio yang lebih sehat.

Ety menjelaskan, pengelolaan risiko dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya saat kredit bermasalah muncul. BRI memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) serta mengoptimalkan fungsi penagihan dan pemulihan kredit.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pertumbuhan memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” jelasnya.

UMKM Tetap Jadi Andalan Utama

Sebagai bank dengan fokus utama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BRI dituntut disiplin dalam memantau risiko. Pasalnya, portofolio UMKM memiliki dampak sosial besar karena bersentuhan langsung dengan aktivitas produktif masyarakat.

Ketahanan model bisnis ini terlihat dari total aset BRI Group yang mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen secara tahunan. Laba bersih konsolidasian juga naik 17,5 persen menjadi Rp31,2 triliun pada periode yang sama.

Ety menambahkan, jaringan BRI yang tersebar hingga ke pelosok dan basis nasabah yang terdiversifikasi menjadi peredam gejolak ekonomi. Karakteristik ini membuat portofolio kredit tidak terkonsentrasi pada satu wilayah atau sektor tertentu saja.

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai,” pungkas Ety.

Dengan kombinasi pertumbuhan kredit dua digit dan biaya risiko yang terkendali, BRI optimistis dapat mempertahankan momentum kinerja hingga akhir tahun. Perbaikan indikator kualitas aset ini menjadi modal utama menghadapi dinamika ekonomi yang masih penuh tantangan.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks