BALI — Setelah memakai Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra sebagai daily driver selama beberapa pekan, satu hal langsung terasa: ini bukan sekadar rebranding atau ubahan minor. Untuk pertama kalinya, Samsung memberikan chipset "for Galaxy" ke foldable — Snapdragon 8 Elite Gen 5 — yang sebelumnya eksklusif untuk seri Galaxy S. Hasilnya, skor Geekbench 6 naik signifikan: 3.733 single-core dan 11.457 multi-core, mengalahkan Z Fold 7 yang hanya 3.052 dan 9.735.
Yang paling mengesankan justru daya tahan baterai. Baterai 5.000 mAh di Z Fold 8 Ultra bertahan 14 jam 33 menit dalam pengujian web surfing 5G di kecerahan 150 nits. Angka ini hampir 4 jam lebih lama dari Z Fold 7 dan 2 jam lebih awet dari Z Fold 8. Saya bahkan bisa tidur tanpa ngecas karena paginya baterai masih hidup. Ditambah dukungan charging 45W yang mengisi 76% dalam 30 menit — lebih cepat dari klaim resmi Samsung yang 67%.
Panel AMOLED 8 inci di Z Fold 8 Ultra mencapai puncak kecerahan 2.687 nits dalam pengujian kami. Angka ini mengalahkan Google Pixel 10 Pro XL (2.555 nits) dan Z Fold 7 (2.245 nits). Ditambah lapisan anti-reflektif baru, layar ini tetap terbaca jelas di bawah sinar matahari langsung Inggris yang terik sekalipun. Lipatan layar (crease) juga sudah diminimalkan, meski belum hilang total.
Kamera utama 200MP dan ultrawide 50MP menghasilkan foto tajam dan kaya detail — lebih baik dari iPhone 17 Pro Max dalam kondisi cahaya cukup. Foto malam juga meningkat berkat ProVisual engine, dengan detail bata gereja dan dedaunan yang jauh lebih jelas dibanding Z Fold 7. Tapi masalahnya ada di kamera telefoto 10MP 3x optical zoom. Hasil jepretan di 3x saja terlihat lembut, apalagi saat diperbesar ke 10x — kualitasnya sangat buruk untuk ponsel seharga Rp 33 jutaan. Samsung mempertahankan sensor kecil ini sementara kompetitor seperti Galaxy S26 Ultra sudah pakai telefoto 50MP. Ini keputusan desain yang sulit dimaafkan.
Samsung menghapus dukungan S Pen di Z Fold 8 Ultra karena melepas lapisan digitizer untuk menipiskan bodi. Padahal layar besar 8 inci sangat cocok untuk stylus. Ironisnya, alasan Samsung dulu tidak memakai magnet Qi2 karena mengganggu S Pen — sekarang S Pen-nya sudah tidak ada, tapi magnet tetap tidak dibenamkan. Wireless charging tetap butuh case khusus.
Ini tahun ketiga berturut-turut harga Z Fold naik $100. Z Fold 8 Ultra dibanderol mulai $2.099 (Rp 33,6 juta) untuk varian 256GB. Varian 512GB $2.299, dan 1TB $2.699. Lebih parahnya, Samsung tidak memberikan bonus pre-order "double storage" seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada insentif berarti untuk memesan lebih awal.
Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah foldable terbaik yang pernah dibuat Samsung — baterai dan performanya akhirnya tidak lagi jadi titik lemah. Layar paling terang di kelasnya, kamera utama dan ultrawide yang kompetitif, serta AI multitasking yang berguna (terutama MyFanCam) membuat pengalaman pakai terasa premium. Tapi dengan harga yang terus naik, kamera telefoto buruk dan absennya S Pen jadi noda yang sulit diabaikan. Ponsel ini cocok untuk Anda yang prioritas utamanya adalah layar besar, baterai tahan lama, dan performa gaming maksimal. Tapi kalau fotografi jarak jauh atau produktivitas stylus adalah kebutuhan utama, lebih baik lihat Galaxy S26 Ultra atau tunggu Z Fold 9 Ultra tahun depan.