BALI — Jurnalis video MacRumors, Dan Barbera, sudah menjajal Galaxy Z Fold8 selama beberapa waktu. Menurutnya, perangkat ini adalah "gambaran paling nyata" tentang seperti apa rasanya menggunakan iPhone lipat yang selama ini hanya ada di rumor. Yang menarik, Samsung tidak memilih desain tinggi dan sempit seperti pendahulunya, melainkan mengadopsi bentuk lebih lebar yang terasa seperti memegang iPad mini saat dibuka.
Layar Lebar: Kelebihan yang Juga Jadi Tantangan
Dengan rasio 4:3, layar utama Galaxy Z Fold8 terasa lebih natural untuk menjalankan dua aplikasi berdampingan atau menonton video. Layar sampul 5,5 inci juga cukup nyaman untuk membalas notifikasi, email, atau chat tanpa harus membuka perangkat.
Tapi ada catatan. Bentuk buku seperti ini kurang optimal untuk video vertikal ala TikTok atau Reels. Belum lagi, tidak semua aplikasi punya tata letak yang pas di layar selebar ini. Di sinilah Apple punya potensi unggul: perusahaan dilaporkan sedang mengembangkan sistem resize otomatis ala iPad agar aplikasi tetap rapi di layar lipat—sesuatu yang belum sempurna dilakukan Samsung.
Kamera dan Fitur: Ada Kompromi di Sini
Samsung hanya membekali Z Fold8 dengan dua kamera belakang, dan itu bukan yang terbaik yang mereka punya. Pola yang sama diperkirakan terjadi pada iPhone Ultra: kamera mungkin akan kalah canggih dibanding iPhone 18 Pro yang dirilis musim gugur nanti. Lensa telefoto kemungkinan absen, dan pengguna juga harus rela kehilangan Face ID—kembali ke Touch ID di bodi samping.
Soal engsel, Samsung mengklaim teknologi baru di Z Fold8 mengurangi lipatan layar (crease). Dalam praktiknya, lipatan masih terlihat di pencahayaan tertentu. Apple disebut ingin desainnya hampir tanpa lipatan sama sekali. Kita lihat saja nanti.
Harga dan Strategi: Dua Raksasa dengan Pendekatan Berbeda
Galaxy Z Fold8 dibanderol 1.900 dolar AS (sekitar Rp 31,3 juta). Sementara itu, rumor menyebut Apple bisa mematok harga hingga 2.500 dolar AS (sekitar Rp 41,2 juta) untuk iPhone Ultra. Angka itu membuat Apple sadar perlu strategi agar tidak bikin calon pembeli kabur. Salah satu jawabannya adalah program Apple Upgrade—skema sewa ponsel dengan cicilan bulanan lebih rendah dari program sebelumnya.
Menariknya, Samsung baru merilis Z Fold8 dengan desain lebar ini setelah bocoran bentuk iPhone Ultra tersebar. Padahal, rumor ponsel lipat model buku dari Apple sudah muncul sejak Maret 2018, dan Samsung sudah membuat ponsel lipat sejak 2019. Tapi baru sekarang mereka mengadopsi rasio layar yang selama ini dikaitkan dengan Apple.
Kesimpulan: Siapa yang Akan Tergoda?
Barbera mengaku awalnya ragu iPhone Ultra bakal laris karena harganya. Tapi setelah memakai Galaxy Z Fold8 dan menunjukkan perangkat ini ke orang lain, ia berubah pikiran. "iPhone Ultra akan menjadi hit," simpulnya. Meski begitu, pengguna setia iOS kecil kemungkinan pindah ke Samsung, dan sebaliknya. Yang mungkin terjadi: Galaxy Z Fold8 bisa menahan pengguna Android agar tidak beralih ke Apple ketika iPhone lipatnya keluar.
Bagi pengguna di Indonesia, pilihan masih sama: kalau mau ponsel lipat sekarang, Samsung Z Fold8 sudah di tangan. Tapi kalau mau menunggu desain yang lebih matang secara software dan engsel yang lebih mulus, iPhone Ultra bisa jadi jawabannya—asalkan siap dengan banderol yang bikin kantong menjerit.