BALI — Kepemilikan saham Danantara pada 13 emiten itu berkisar antara 50,49 persen hingga 91,11 persen. Posisi pengendalian tertinggi memang dipegang Garuda Indonesia, disusul Wijaya Karya (WIKA) dengan 90,11 persen, dan Krakatau Steel di angka 79,20 persen.
Di sektor perbankan, Danantara menggenggam kendali atas empat bank pelat merah sekaligus: Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN. Keempatnya memiliki porsi saham yang bervariasi, dengan BRI mencapai 52,66 persen dan Bank Mandiri 51,48 persen.
Data KSEI menunjukkan seluruh kepemilikan tersebut tercatat atas nama Perusahaan Perseroan (Persero) PT Danantara Asset Management. Berikut rincian lengkapnya:
Di luar perbankan, Danantara juga memegang kendali atas perusahaan-perusahaan infrastruktur penting seperti Telkom Indonesia, Jasa Marga, Adhi Karya, PP, Waskita Karya, dan Wijaya Karya. Kepemilikan ini memperkuat peran Danantara dalam mengelola proyek-proyek pembangunan nasional, mulai dari jalan tol hingga konstruksi.
Sementara di sektor industri dasar, Semen Indonesia dan Krakatau Steel berada di bawah kendali Danantara. Di sektor transportasi udara, Garuda Indonesia menjadi andalan utama dengan penguasaan saham yang sangat dominan.
Penguasaan mayoritas ini berjalan seiring program streamlining yang tengah digencarkan pemerintah. Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa 274 entitas BUMN telah berhasil disederhanakan.
"Kami sebelumnya sudah melaporkan bagaimana kami melakukan streamlining. Nah, hasilnya sekarang sudah 274 perusahaan yang kami lakukan streamlining," ujar Dony dalam keterangan tertulis yang diterima Kabarbursa.com, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Target akhir program ini jauh lebih besar. Dari total 652 perusahaan yang direncanakan masuk proses penyederhanaan, jumlah entitas BUMN yang tersisa diproyeksikan hanya sekitar 250 perusahaan. Penyederhanaan ini bertujuan membuat struktur perusahaan negara lebih ramping agar pengelolaannya lebih efektif dan efisien.
Dengan portofolio yang demikian luas, Danantara kini menjadi pemegang saham pengendali yang menentukan arah strategis 13 emiten kunci di bursa. Konsolidasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing BUMN di tengah dinamika ekonomi global yang semakin menantang.