BALI — PT Kereta Api Indonesia (KAI) merespons cepat arahan Presiden Prabowo Subianto dengan menyiapkan rencana pengembangan jalur kereta baru di tiga wilayah strategis: Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Inisiatif ini menandai pergeseran fokus pembangunan transportasi massal yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa menuju kawasan timur dan barat Indonesia.
Keputusan ini diambil menyusul instruksi langsung dari Istana yang meminta BUMN perkeretaapian berperan lebih aktif dalam rantai pasok nasional. "Kami sedang melakukan kajian dan persiapan untuk pengembangan jaringan di tiga wilayah tersebut, sesuai arahan Bapak Presiden," demikian pernyataan resmi manajemen KAI dalam keterangan yang diterima, Selasa (18/2).
Untuk Sumatra dan Kalimantan, KAI memprioritaskan pembangunan jalur yang berorientasi pada angkutan barang. Kedua pulau ini merupakan lumbung komoditas utama nasional, mulai dari batu bara, kelapa sawit, hingga hasil perkebunan lainnya. Kehadiran rel kereta diharapkan mampu menekan biaya logistik yang selama ini sangat bergantung pada moda truk dengan kapasitas terbatas.
Potensi penghematan biaya logistik menjadi pertimbangan utama. Dengan perpindahan moda dari jalan raya ke rel, efisiensi bahan bakar dan waktu tempuh bisa ditekan signifikan. Ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan rasio biaya logistik nasional yang saat ini masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga.
Berbeda dengan dua wilayah lainnya, pengembangan jalur kereta di Bali lebih diarahkan untuk melayani sektor pariwisata dan mobilitas penduduk lokal. Konsep kereta ringan atau lintas perkotaan dinilai paling memungkinkan diterapkan di Pulau Dewata. Langkah ini juga menjadi jawaban atas kemacetan yang semakin parah di kawasan wisata seperti Kuta, Seminyak, dan Ubud.
KAI menilai Bali membutuhkan solusi transportasi massal yang cepat, tepat waktu, dan rendah emisi. "Kami melihat kebutuhan yang berbeda di tiap wilayah. Untuk Bali, fokusnya adalah integrasi dengan ekosistem pariwisata dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi," tambah perwakilan KAI.
Meski belum merinci total investasi yang dibutuhkan, proyek senilai ini dipastikan memerlukan dana triliunan rupiah. KAI membuka peluang skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk meringankan beban fiskal negara. Pendanaan kreatif menjadi kunci agar proyek tidak membebani APBN secara berlebihan.
Tantangan terbesar justru terletak pada pembebasan lahan dan kondisi geografis. Kontur tanah di Sumatra dan Kalimantan yang sebagian besar berupa rawa dan hutan membutuhkan rekayasa teknik yang rumit. Sementara di Bali, ketersediaan lahan yang terbatas dan harga tanah yang tinggi menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi tim proyek.
Bagi pelaku industri, khususnya tambang dan perkebunan, realisasi jalur kereta ini akan membuka akses pasar yang lebih luas dengan biaya kompetitif. Produsen tidak lagi kesulitan membawa hasil produksi ke pelabuhan utama. Bagi masyarakat umum, kehadiran moda kereta memberikan alternatif transportasi yang lebih aman dan terjangkau dibandingkan moda darat lainnya.
Proyek ini juga diproyeksikan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar selama masa konstruksi. Efek berganda (multiplier effect) dari pembangunan infrastruktur ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal di ketiga wilayah tersebut. KAI menargetkan kajian kelayakan dapat rampung dalam waktu dekat untuk mempercepat proses pelelangan dan pembebasan lahan.