DENPASAR — PT Restu Mulya Mandiri berencana melakukan tes urine terhadap seluruh kru busnya yang berjumlah sekitar 60 orang. Kebijakan ini diambil perusahaan sebagai bentuk komitmen menekan risiko kecelakaan di jalan raya yang dipicu oleh penyalahgunaan narkotika.
Rencana tersebut disampaikan Owner Transport Restu Mulya, Ketut Edi Dharma Putra, di sela-sela kegiatan sosialisasi yang rutin digelar setiap tahun ini. Kegiatan menghadirkan narasumber dari kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Denpasar, serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar.
Alasan Perusahaan Terapkan Tes Urine untuk Kru Bus
Edi menilai pengemudi yang terpapar narkoba menjadi ancaman serius bagi keselamatan penumpang dan pengguna jalan lain. Menurutnya, efek pemulihan dari ketergantungan obat-obatan terlarang tidak pernah bisa dijamin tuntas.
“Jangan sampai kru kita terkena narkoba. Kalau orang sudah kena narkoba, pulihnya sulit dan belum tentu tuntas, padahal masih ada peluang untuk mengulangi. Makanya, saya akan mengadakan tes urine untuk seluruh kru, sekitar 60 orang, untuk mencegah hal ini,” tegas Edi yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Trans Metro Dewata.
Selain narkotika, pengawasan terhadap konsumsi minuman beralkohol di lingkungan garasi juga diperketat. Perusahaan memanfaatkan kamera pemantau atau CCTV serta petugas keamanan untuk memastikan para kru tetap dalam kondisi prima saat bertugas.
Waspadai Kebakaran Bus yang Dipicu Power Bank
Kegiatan sosialisasi juga menyoroti peningkatan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran kendaraan. Edi menyebut banyak kejadian mobil terbakar belakangan ini dipicu oleh penggunaan perangkat pengisi daya yang tidak sesuai standar.
“Sekarang banyak sekali kejadian mobil terbakar. Salah satunya karena charging di mobil. Kalau mengecas HP saja tidak apa-apa, tetapi yang sering menyebabkan ledakan dan kebakaran itu power bank,” jelasnya.
Meski setiap unit bus telah dilengkapi Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Edi mengakui pengetahuan kru dalam menggunakannya masih menjadi pekerjaan rumah. Kepanikan saat insiden terjadi kerap membuat alat tersebut tidak berfungsi maksimal.
“Jangan panik, kalau panik tidak akan menyelesaikan masalah. Setiap bus sudah kita lengkapi APAR. Walaupun kecil, fungsi awalnya bisa kita pakai. Sayangnya, kadang kalau terjadi insiden, kru panik dan tidak tahu cara menggunakannya. Inilah edukasi yang diberikan oleh pihak Damkar,” ujarnya.
Jalan Tol Perpendek Waktu Tempuh, Penyeberangan Masih Jadi Kendala
Di tengah upaya penguatan keselamatan, Edi menyampaikan bahwa perkembangan infrastruktur jalan tol telah mengubah pola perjalanan penumpang bus. Mobilitas masyarakat yang terus meningkat membuat pertumbuhan transportasi antarkota semakin kompetitif.
“Mobilitas orang terus berputar. Dengan perputaran mobilitas ini artinya pertumbuhan transportasi itu pasti ada. Sekarang banyak sekali PO baru bermunculan dan potensi peningkatan penumpang memang ada kecenderungan,” katanya.
Ia mencontohkan, perjalanan menuju Yogyakarta kini menjadi lebih singkat berkat keberadaan jalan tol. Penumpang bisa beristirahat lebih lama dan melanjutkan aktivitas keesokan harinya. Namun, perjalanan menuju Pulau Jawa masih menghadapi kendala pada penyeberangan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, khususnya saat gelombang laut tinggi.
Restu Mulya Dorong Pemerintah Sediakan Feeder Trans Metro Dewata
Perusahaan yang telah beroperasi sejak 1984 ini juga menyoroti pentingnya transportasi umum terintegrasi di Bali. Edi mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan angkutan pengumpan atau feeder yang terkoneksi dengan Trans Metro Dewata.
“Perlu kiranya pemerintah daerah, kabupaten, kota membuat feeder, trayek pengumpan. Sehingga ada istilah bahwa trayek utama disuplai oleh trayek cabang maupun trayek ranting. Begitu pula sebaliknya,” katanya.
Menurutnya, keberadaan feeder menjadi kunci agar masyarakat yang berada di luar koridor utama tetap memiliki akses menuju layanan transportasi umum. Saat ini, rute dengan peminat tinggi bagi Restu Mulya masih didominasi perjalanan menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan perusahaan otobus lain untuk menghubungkan penumpang ke sejumlah kota di Pulau Jawa.