BANGLI — Di tengah gempuran kuliner modern, keterampilan membuat jajan uli dan begina di Desa Guliang Kangin, Bangli, Bali, kian sulit ditemukan. Padahal, jajan berbahan dasar beras ketan ini merupakan elemen yang wajib hadir dalam setiap tingkatan banten, mulai dari nista, madya, hingga utama.
Desak, seorang perajin yang telah menggeluti usaha ini sejak 18 tahun lalu, menjadi salah satu dari segelintir orang yang masih menguasai teknik menipiskan adonan uli yang lengket hingga menjadi sangat tipis dan rata. Baginya, proses ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari menjaga kesucian upakara.
Dalam kehidupan umat Hindu Bali, setiap yadnya atau upakara tidak pernah lepas dari sarana berupa banten. Banten ini dibedakan menjadi tiga tingkatan: nista untuk skala kecil, madya untuk skala menengah, dan utama untuk skala besar.
Dari ketiga tingkatan tersebut, unsur yang wajib selalu ada adalah jajan uli dan begina. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol yang mengikat setiap rangkaian upacara, baik di pura, rumah, maupun tempat suci lainnya.
Berbeda dengan jajan pada umumnya, pembuatan uli dan begina memerlukan ketelitian dan kesabaran tinggi. Desak menjelaskan, prosesnya dimulai dari merendam ketan, mengukus, kemudian mencampurnya dengan bahan lain sebelum dikukus kembali.
Untuk begina, ketan yang sudah direndam dikukus, diaru, lalu dikukus lagi sebelum akhirnya diangkat dan diisi gula. Sementara untuk uli, ketan yang sudah dikukus dicampur dengan tepung dan kelapa, dikukus lagi, baru kemudian diisi gula.
Setelah matang, adonan langsung dimasukkan ke dalam cetakan. "Ketika sudah matang langsung dimasukkan dalam cetakan. Sesudah dingin baru diiris dan dijemur," kata Desak kepada Kelas Jurnalisme Warga di Desa Tamanbali.
Total waktu yang dibutuhkan untuk membuat jajan ini dari bahan mentah hingga siap digoreng mencapai tiga hari. Satu hari khusus untuk proses produksi, dan dua hari berikutnya untuk penjemuran jika matahari bersinar terang.
Dalam satu kali produksi, Desak mampu menghasilkan 3 hingga 4 kilogram jajan siap goreng. Jumlah ini biasanya langsung habis dipesan, terutama saat momentum hari raya besar seperti Purnama, Tilem, Galungan, dan Kuningan tiba.
Jajan uli dan begina buatan Desa Guliang Kangin hadir dalam beragam warna. Ada yang berwarna putih original, coklat karena dicampur gula bali, hingga merah yang menggunakan pewarna makanan.
Meski tampilannya sederhana, keahlian menipiskan adonan menjadi kunci utama yang membedakan kualitas jajan buatan Desak dengan yang lainnya. Teknik ini pula yang membuat jajannya semakin sulit dicari, karena tidak semua orang mampu melakukannya dengan sempurna.
Bagi Desak, usaha ini bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga dedikasinya menjaga warisan leluhur agar tidak punah di tengah arus zaman.