Pemprov Bali, Badung dan KAI Teken Kerja Sama Trem Listrik Baterai, Rute Bandara-Canggu 12 Kilometer

Penulis: Yanto Prasetya  •  Selasa, 01 September 2026 | 23:47:02 WIB
Penandatanganan nota kerja sama antara Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan PT KAI untuk proyek trem listrik baterai berlangsung di Gedung Kertasabha, Denpasar.

DENPASAR — Rencana transportasi massal di Bali memasuki babak konkret setelah penandatanganan nota kerja sama antara Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan PT KAI di Gedung Kertasabha, Denpasar. Proyek trem listrik ini dirancang untuk menjawab tingginya mobilitas di koridor selatan Bali yang setiap harinya dilalui sekitar 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pembangunan infrastruktur ini tidak boleh mengorbankan karakter budaya dan lingkungan Pulau Dewata. “Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi.

Mengapa Trem, Bukan MRT atau LRT?

PT KAI sengaja memilih konsep trem ketimbang moda Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT). Alasannya, trem memiliki dimensi fisik lebih kecil—sekitar dua meter lebih—sehingga bisa menyesuaikan dengan kondisi kawasan yang dilalui. Tingkat kebisingannya rendah dan ramah lingkungan.

Teknologi baterai yang digunakan juga membuat trem tidak memerlukan kabel listrik di sepanjang jalur. Hal ini dinilai mampu meminimalkan dampak visual terhadap pemandangan alam dan kawasan pariwisata di jalur Bandara–Canggu.

Berapa Kapasitas Angkut dan Waktu Tempuhnya?

Rute awal trem membentang sekitar 12 kilometer dengan dua jalur dan area persilangan untuk kelancaran operasional. Waktu tempuh diproyeksikan sekitar 30 menit dengan jeda keberangkatan antartrem hanya 10 menit. Dalam kondisi operasional maksimal, kapasitas angkut mencapai 60 ribu penumpang per hari.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menekankan, pembangunan infrastruktur di Bali harus berpijak pada kearifan lokal. “Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” kata Bobby.

Apa Langkah Sebelum Groundbreaking Maret 2027?

Sebelum pembangunan fisik dimulai, sejumlah tahapan masih harus dilalui. Mulai dari studi teknis, kajian lanjutan, sosialisasi kepada masyarakat, pelibatan desa adat, hingga koordinasi dengan pelaku pariwisata, pengelola hotel, dan akomodasi wisata di sepanjang trase.

Gubernur Koster mengingatkan agar keberadaan hotel, objek wisata, permukiman, dan aktivitas masyarakat di sepanjang jalur menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan. Ia juga meyakini trem yang dirancang baik justru bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali. “Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” tandasnya.

Dengan target operasional penuh pada 2029, proyek ini dinilai sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus memperkuat konektivitas kawasan pariwisata selatan Bali.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: barometerbali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top