BALI — Wisata satwa Indonesia kembali diakui di panggung internasional. Wildlife Experience Index 2026, yang disusun perusahaan perjalanan Bailey Robinson, menempatkan dua pengalaman dari Indonesia dan kawasan Borneo dalam 10 besar destinasi terbaik dunia untuk mengamati satwa liar. Penilaian ini bukan sekadar soal keindahan, melainkan kombinasi dari enam faktor: kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, dan peluang wisatawan melihat hewan di habitat alaminya.
Pengalaman melacak badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, meraih skor 85 dari 100 dan menempati peringkat kelima. Kawasan ini menjadi satu-satunya habitat alami terakhir bagi Rhinoceros sondaicus di dunia. Seluruh populasi liar badak Jawa hanya bisa ditemukan di semenanjung barat Pulau Jawa ini.
Yang membuat pengalaman ini istimewa adalah tingkat kesulitannya. Badak Jawa dikenal pemalu dan habitatnya sangat luas, sehingga wisatawan wajib mengikuti proses pelacakan bersama pendamping berpengalaman. Aturan kawasan konservasi juga ketat. Tantangan inilah yang justru menjadi daya tarik—bukan sekadar melihat, tapi ikut merasakan kerja keras para konservasionis menjaga spesies yang nyaris punah.
Di posisi kedelapan dengan skor 84, ekspedisi mengamati orangutan Kalimantan di Borneo menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan diajak menjelajahi hutan tropis untuk menyaksikan satwa ikonik ini bergelantungan di kanopi, jauh dari hiruk-pikuk kebun binatang. Hutan tropis Asia Tenggara memang punya karakter yang kontras dengan safari savana Afrika—lebih intim, lebih teduh, dan penuh kejutan.
Posisi puncak Wildlife Experience Index 2026 ditempati trekking gorila di Rwanda atau Uganda dengan skor sempurna 90 untuk peluang perjumpaan. Rwanda membatasi izin trekking hanya 96 permit per hari, sementara Bwindi National Park di Uganda mengizinkan maksimal delapan orang mengunjungi setiap keluarga gorila yang sudah terbiasa dengan manusia.
Ekspedisi melihat penguin kaisar di Antarktika menyusul di posisi kedua dengan skor 88,5, mengandalkan keterpencilan dan eksklusivitas sebagai daya tarik utama. Antelop saiga di Kazakhstan (87) dan pencarian macan tutul salju di Ladakh atau Himalaya (85,5) melengkapi empat besar.
Fakta menarik dari daftar ini: delapan dari 10 pengalaman teratas melibatkan spesies terancam punah. Ini menegaskan bahwa wisata satwa berkualitas kini diukur dari dampaknya terhadap pelestarian, bukan sekadar hiburan. Posisi keenam ditempati badak hitam di Namibia atau Kenya (84,5), disusul beruang kutub di Svalbard (84) yang setara dengan orangutan Kalimantan. Gorila dataran rendah timur di Republik Demokratik Kongo dan safari anjing liar Afrika di Botswana atau Tanzania menutup jajaran 10 besar.
Bagi traveler Indonesia, pengakuan ini menjadi pengingat bahwa wisata alam liar berkualitas tidak selalu harus ke Afrika. Ujung Kulon dan Kalimantan menawarkan pengalaman yang tak kalah eksklusif, dengan nilai konservasi yang justru lebih mendesak. Sebelum berangkat, pastikan mengikuti ketentuan kawasan konservasi dan menggunakan jasa operator resmi yang berpengalaman. Informasi terkini mengenai kuota kunjungan dan prosedur dapat dikonfirmasi langsung ke Balai Taman Nasional Ujung Kulon atau dinas pariwisata setempat.