AMLAPURA — Tim dosen LSPR Institute of Communication and Business menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Karangasem, Bali, dengan menyasar penguatan daya saing UMKM jamur sekaligus pengembangan wisata edukatif berbasis masyarakat. Kegiatan berlangsung pada 1 September 2026 dan dibiayai Dana Hibah Kemendiktisaintek RI Tahun 2026.
Program diketuai Jati Paras Ayu, MM.Par., CHE, bersama dua anggota tim, Dr. Rani Chandra Oktaviani, M.Si. dan Anak Agung Istri Putri Dwi Jayanti, M.I.Kom. Fokusnya: pemanfaatan teknologi digital, storytelling produk, inovasi kemasan ramah lingkungan, dan pengembangan konsep edutourism berbasis potensi lokal Desa Pidpid.
UMKM GEDE JAMUR yang dipimpin Founder I Gede Artha menjadi mitra utama. Pokdarwis Desa Pidpid masuk sebagai mitra kedua yang menggarap potensi wisata edukatif berbasis warga.
Integrasi keduanya menghubungkan produk jamur dengan pengalaman wisata. Wisatawan dan konsumen bisa menelusuri proses budidaya jamur, karakteristik produk, cerita pelaku usaha, hingga pesan keberlanjutan lewat pengalaman digital yang menempel pada produk.
Inovasi utama program ini adalah kemasan biodegradable berbasis storynomic yang terintegrasi QR Code. Kemasan tidak lagi sekadar pelindung produk, tetapi berfungsi sebagai media komunikasi yang menghubungkan konsumen dengan konten digital GEDE JAMUR.
Dengan memindai QR Code, konsumen dapat mengakses konten edukasi soal produk, proses budidaya jamur, dan informasi pengalaman edutourism yang dikembangkan bersama Pokdarwis Desa Pidpid. Nilai tambahnya: memperkuat komunikasi praktik usaha yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.
"Konsep yang kami dorong bukan hanya bagaimana produk UMKM terlihat menarik, tetapi bagaimana produk tersebut dapat bercerita dan memberikan pengalaman kepada konsumen. Kemasan menjadi bagian dari media komunikasi, sementara teknologi digital menjadi jembatan untuk menghadirkan pengalaman edukasi yang lebih interaktif," ujar Jati Paras Ayu, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat.
Pendekatan storynomic dipakai untuk mengangkat cerita di balik produk dan menyambungkannya dengan pengalaman konsumen. Cerita soal proses budidaya, pelaku usaha, masyarakat, potensi Desa Pidpid, dan nilai keberlanjutan dikemas sebagai bagian dari komunikasi produk.
I Gede Artha menyebut inovasi ini memperkuat identitas produk sekaligus memperkenalkan proses budidaya jamur kepada masyarakat dan wisatawan.
"Harapannya, konsumen tidak hanya membeli produk jamur, tetapi juga mengetahui cerita di balik produk tersebut, bagaimana prosesnya, dan bagaimana produk ini menjadi bagian dari potensi Desa Pidpid," ujar I Gede Artha.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sosialisasi kepada pengelola UMKM GEDE JAMUR dan Pokdarwis Desa Pidpid. Tujuannya membangun pemahaman dan komitmen mitra terhadap penerapan edutourism digital interaktif dan kemasan biodegradable.
Setelah sosialisasi, program berlanjut ke pelatihan bagi pengelola UMKM dan anggota Pokdarwis. Materinya mencakup pengelolaan konten Digital Interactive Edutourism, penyusunan narasi produk, serta penerapan storytelling lewat kemasan biodegradable berbasis storynomic.
Mitra juga dibekali kemampuan menyusun dan mengelola konten digital yang informatif, menarik, dan relevan bagi wisatawan maupun konsumen. Konten dirancang bisa diperbarui berkala agar informasi tetap aktual.
Lewat skema ini, produk jamur tidak hanya diposisikan sebagai komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata edukatif yang menghubungkan UMKM, pokdarwis, dan potensi Desa Pidpid.