WhatsApp Hadirkan Parental Control, Wamenkomdigi Soroti Risiko Ketergantungan AI pada Anak

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:33:31 WIB
WhatsApp merilis fitur Parental Control untuk membantu orang tua memantau aktivitas digital anak remaja.

BALI — WhatsApp merilis fitur Parental Control untuk membantu orang tua memantau aktivitas digital anak remaja, diperkenalkan bersamaan dengan peringatan Wamenkomdigi Nezar Patria soal bahaya ketergantungan AI. Fitur ini memungkinkan orang tua melihat grup dan kanal yang terhubung ke akun anak tanpa membaca percakapan pribadi mereka. Peluncuran berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh dalam ekosistem digital yang semakin kompleks.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa penggunaan kecerdasan artifisial tanpa pendampingan berisiko menggerus kemandirian dan daya kritis anak. Peringatan itu disampaikannya saat menghadiri peluncuran fitur Parental Control dari WhatsApp di Jakarta, seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Nezar, ada sekitar 70 juta anak Indonesia yang akan tumbuh di tengah ekosistem digital yang kian rumit, termasuk dengan kehadiran AI. Karena itu, peran orang tua dinilai perlu lebih aktif agar teknologi dimanfaatkan secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Mengapa Ketergantungan AI Jadi Sorotan

Nezar menyoroti risiko anak kehilangan kepribadian dan kemampuan berpikir kritis jika terlalu bergantung pada AI. "Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan," ujarnya.

Selain ketergantungan AI, ruang digital menghadirkan ancaman lain bagi anak. Mulai dari interaksi dengan orang asing, paparan konten tidak sesuai usia, risiko terhadap data pribadi, hingga kecanduan digital.

Nezar menilai perlindungan anak menuntut kolaborasi tiga pihak: pemerintah, platform digital, dan orang tua. Pendampingan bisa dimulai lewat komunikasi terbuka, pemahaman atas aktivitas digital anak, serta pemanfaatan fitur keamanan yang tersedia.

Apa yang Ditawarkan Fitur Parental Control

WhatsApp memperkenalkan Parental Control agar orang tua bisa mendampingi aktivitas digital anak remaja. Fitur ini menampilkan informasi tentang grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak, mengatur pilihan konten yang dapat dilihat dan dibagikan, serta mengirim notifikasi atas perubahan tertentu pada akun.

Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp, Victoria Grant, menjelaskan fitur dirancang mendukung keselamatan anak tanpa menuntut orang tua membaca percakapan pribadi mereka. "Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama," kata Grant.

Pendekatan itu diharapkan menjaga kepercayaan dalam keluarga sekaligus melindungi anak di ruang digital. WhatsApp juga menyediakan Kelas Pengasuhan Digital yang memperkenalkan buku saku, video, dan permainan edukatif untuk mempelajari fitur Parental Control bersama anak.

Jadwal Rollout dan Landasan Regulasi

Setelah Jakarta, pelatihan Kelas Pengasuhan Digital dijadwalkan berlanjut ke Padang dan Cirebon. Program ini merupakan kolaborasi WhatsApp dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita untuk memperluas literasi pengasuhan digital di Indonesia.

Dari sisi regulasi, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau PP Tunas. Beleid itu menjadi landasan membangun ruang digital yang lebih aman bagi anak.

"Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP Tunas dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban," tegas Nezar.

Nezar berharap kolaborasi ini membantu orang tua mengajarkan perlindungan data pribadi, etika berkomunikasi, serta penggunaan AI secara bijak dan kreatif. Anak diharapkan tumbuh cerdas, kreatif, inovatif, dan tangguh tanpa mengabaikan keselamatan di dunia digital.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top