Pencarian

Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art di Badung Angkat Persoalan Sampah Jadi Karya Anak SD hingga Perupa Lintas Genre

Senin, 15 Juni 2026 • 23:28:01 WIB
Pameran Seni Tibubeneng Sustainable Art di Badung Angkat Persoalan Sampah Jadi Karya Anak SD hingga Perupa Lintas Genre
Anak-anak SD Desa Tibubeneng memamerkan karya seni daur ulang plastik dalam pameran Tibubeneng Sustainable Art.

BADUNG — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan malam dan kemeriahan pariwisata Canggu, Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency hadir sebagai oase kreatif yang mengusung isu lingkungan. Pameran Tibubeneng Sustainable Art yang menandai grand opening pusat seni ini berlangsung hingga 30 Juni 2026 mendatang dan terbuka untuk umum.

Lebih dari 20 karya seni—mulai dari lukisan, kartun, instalasi seni, hingga fotografi—dipamerkan di dua lokasi berbeda dalam satu kawasan. Di wantilan WRQ, karya seniman cilik dari sekolah dasar se-Desa Tibubeneng berhasil menyihir pengunjung. Banyak yang tidak menyangka bahwa lukisan daur ulang plastik dengan visual memukau itu adalah hasil kreasi anak SD.

Anak SD Diajak Olah Sampah Plastik Jadi Karya Seni

Sebelum pameran digelar, para siswa SD yang memiliki bakat melukis mengikuti workshop plasticology bersama seniman Made Bayak. “Kesempatan dan pengalaman itulah yang menjadikan anak-anak memiliki kemampuan atau teknis melukis daur ulang plastik menjadi karya yang menghasilkan visual yang sangat bagus,” ujar Quoriena Ginting, kolektor wastra nusantara sekaligus penggagas WRQ Art Hub & Residency bersama suaminya, Daniel Ginting.

Di ruang galeri utama, karya 10 seniman lintas genre turut memeriahkan pameran. Dari kalangan perupa, nama-nama seperti Made Wianta (alm), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan tampil. Sementara dari dunia kartun, hadir Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, dan Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Fotografer Andang Iskandar dan Tjandra Hutama juga menyumbang karya.

Seni sebagai Alarm untuk Bertindak

Daniel Ginting, founder Ginting Institute dan kolektor seni, menegaskan bahwa seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. “Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” katanya. Istrinya, Quoriena, menambahkan bahwa seni yang berbicara tentang lingkungan bukan sekadar mengejar keindahan, melainkan “ada tanda atau alarm yang menuntut kita untuk bangun, sadar dan bertindak”.

Kurator pameran, Yudha Bantono, menjelaskan bahwa Tibubeneng Sustainable Art adalah inisiatif kolaboratif yang menyatukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan. “Konsep dan tujuan pameran dirancang untuk menampilkan bagaimana seni dapat menjadi media transformasi sosial dan lingkungan,” ujar Yudha, yang aktif mengikuti dan membuat event seni skala nasional dan internasional.

Kolaborasi Nyata Tangani Sampah di Desa Tibubeneng

Pembukaan pameran dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung Made Rai Warastuthi mewakili Bupati Badung, Camat Kuta Utara I Putu Eka Parmana, dan Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya beserta jajarannya. Perbekel Kamajaya menyebut pameran ini sebagai bukti nyata kolaborasi pihak yang peduli dengan permasalahan lingkungan di desanya, khususnya sampah.

“Melalui praktik kegiatan seni, budaya dan lingkungan dipastikan dapat memperkuat upaya Desa Tibubeneng dalam merealisasikan aksi penanganan persoalan sampah dan lingkungan secara berkelanjutan,” kata Kamajaya. Pameran yang berlokasi di Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng ini diharapkan menjadi ruang dialog kreatif antara anak-anak, seniman, warga desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong solusi nyata.

Bagikan
Sumber: balinetizen.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks