TABANAN — Sebanyak lima kelompok atau sekaa peserta tradisi Ngelawang tercatat memeriahkan kawasan Alas Kedaton sejak pagi hingga sore hari. Kehadiran mereka, bersama dengan sekitar 40 pedagang di pasar dadakan, menjadi daya tarik utama yang mendongkrak jumlah wisatawan di daya tarik wisata (DTW) tersebut.
Manajer Operasional DTW Alas Kedaton, I Gusti Bagus Suryawan, mengungkapkan bahwa jumlah sekaa yang tampil kali ini lebih banyak dibandingkan momen serupa sebelumnya. "Tadi terakhir kami lihat ada lima sekaa," ujarnya saat ditemui di tengah suasana liburan.
Sekaa Ngelawang Bergiliran Tampil dari Pagi hingga Sore
Suryawan menjelaskan, para peserta Ngelawang mulai berdatangan ke areal objek wisata sejak pukul 09.30 Wita. Pertunjukan seni berlangsung secara bergantian dengan kedatangan kelompok berikutnya pada pukul 11.00 Wita dan 12.00 Wita.
"Sudah ada tiga kali dan akan lanjut sampai sore. Bersamaan dengan tutup. Tapi biasanya mereka lanjut ke banjar-banjar," ungkapnya.
Tradisi ini dijadwalkan tidak hanya berlangsung saat Umanis Galungan, tetapi juga akan kembali digelar pada hari raya Kuningan dan Umanis Kuningan pada akhir pekan depan.
Pasar Dadakan dan Tarif Tiket yang Masih Berlaku
Pasar dadakan yang mengisi area objek wisata hanya hadir pada momen hari raya tertentu. Selain Galungan dan Kuningan, keramaian serupa biasanya muncul saat Ngembak Geni, sehari setelah perayaan Nyepi.
Meskipun jumlah pengunjung di Alas Kedaton relatif lebih kecil dibandingkan objek wisata lain di Bali, pihak pengelola menilai kehadiran atraksi budaya dan pasar ini cukup efektif menarik minat warga. "Sampai siang ini sudah tiga ratus orang yang datang (sesuai tiket yang terjual)," perkiraan Suryawan.
Untuk biaya masuk, pengelola masih menerapkan tarif lama meski ada rencana kenaikan yang masih dalam tahap kajian. Wisatawan mancanegara dewasa dikenakan biaya Rp 30 ribu dan domestik dewasa Rp 20 ribu. Sementara untuk wisatawan asing anak-anak Rp 20 ribu dan domestik Rp 15 ribu. "Untuk masyarakat lokal Bali, warga kita Rp 10 ribu," pungkasnya.