DEPOK — Program ini ditandai dengan penyerahan sertifikat adopsi bibit pohon jati kepada para pengadopsi. Mereka berasal dari jajaran pimpinan dekanat, guru besar, kepala departemen, hingga alumni FIB UI. Seremoni tersebut dihadiri langsung oleh Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., beserta jajaran sivitas akademika dan perwakilan yayasan.
Dalam sambutannya, Untung Yuwono menegaskan bahwa kolaborasi ini melampaui sekadar aksi tanam pohon. Program ini, menurutnya, merupakan upaya membangun kesadaran ekologis dan memperkuat tanggung jawab sosial di lingkungan kampus. Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap alam adalah bagian integral dari pembangunan peradaban.
“Humaniora mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan bukan sekadar hubungan ekonomi atau utilitarian, melainkan hubungan etis, kultural, dan bahkan spiritual. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan peradaban,” ujarnya.
Filosofi "Menanam Kejatian" di Balik Konservasi Jati Merah
Pemilihan jati merah tidak terjadi tanpa alasan. Secara ekologis, jenis pohon ini dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Hal ini memberikan manfaat nyata bagi penghijauan dan konservasi lahan.
Dari perspektif humaniora, FIB UI memaknai kata "jati" sebagai representasi dari "kejatian". Istilah ini merujuk pada jati diri atau hakikat diri yang sejati. Gagasan tersebut diterjemahkan sebagai upaya "menanam kejatian"—menanam nilai-nilai seperti kejujuran, keteguhan, kepedulian, dan tanggung jawab.
“Sebagaimana pohon memerlukan waktu, kesabaran, dan perawatan untuk tumbuh kokoh, demikian pula karakter manusia dan jati diri bangsa dibangun melalui proses panjang yang memerlukan komitmen dan ketekunan,” tuturnya.
Dukungan Nyata untuk Target SDGs 2030
Program adopsi ini selaras dengan komitmen FIB UI dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Beberapa poin yang ditekankan antara lain SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Selain itu, program ini mendukung SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan serta SDG 17 yang menekankan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi, yayasan, dan masyarakat.
Untung Yuwono berharap program ini tidak berhenti sebagai seremoni belaka. Ia ingin inisiatif ini berkembang menjadi gerakan kolektif yang melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan masyarakat luas.
Diskusi Ekologi Humaniora: Mengembalikan Kesejatian Alam
Setelah seremoni, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif bertajuk "Ekologi Humaniora Nusantara: Mengembalikan Kesejatian Alam dan Karakter Nusantara melalui Konservasi Pohon Jati Merah". Diskusi ini dimoderatori Dr. Junaidi, S.S., M.A., selaku Manajer Kerja Sama dan Ventura FIB UI. Adapun pembicara yang hadir adalah Novi Dwi Jayanti, Ketua Pengurus Janusa, dan Budianto Tanudjaja, Ketua Pengawas Janusa.
Melalui rangkaian kegiatan ini, FIB UI dan Yayasan Jati Nusa Lestari berkomitmen melanjutkan kolaborasi. Keduanya siap mendukung penghijauan lingkungan dan pelestarian alam lewat Program Adopsi Pohon Jati Merah.