DENPASAR — Data Stasiun Geofisika Denpasar menunjukkan 28 gempa bumi terjadi di Bali dan sekitarnya selama minggu ketiga September 2026. Rentang magnitudonya cukup lebar, dari 1,8 sampai 4,6, namun tak satu pun getarannya sampai ke permukaan yang dihuni warga.
PMG Ahli Pertama Stasiun Geofisika Denpasar Muhammad Azany Harits menyebut puluhan gempa itu diperkirakan berasosiasi dengan subduksi Indo Australia-Eurasia dan sesar aktif. Sebagian besar tergolong gempa dangkal.
23 dari 28 Gempa Bermagnitudo di Bawah 3
Dari total kejadian, 82 persen atau 23 gempa tercatat bermagnitudo kurang dari 3. Sementara 5 kejadian atau 17 persen berada di rentang magnitudo 3 hingga kurang dari 5.
Tidak ada gempa dengan magnitudo lebih dari 5 sepanjang periode ini. "Puluhan gempa bumi kembali mengguncang Bali dan wilayah sekitarnya. Gempa dangkal yang terjadi sepanjang minggu ke 3 bulan September itu didominasi gempa dangkal dan tidak dirasakan masyarakat," ujar Azany Harits.
67 Persen Gempa Berkedalaman Kurang dari 60 Km
Berdasarkan kedalaman, gempa dangkal kurang dari 60 km mendominasi dengan 19 kejadian atau 67 persen dari total. Gempa kedalaman menengah antara 60 hingga 300 km tercatat 9 kejadian atau 32 persen.
Nihil gempa dengan kedalaman lebih dari 300 km. "Gempa dangkal sebanyak 19 kejadian, 9 kejadian gempa dengan kedalaman menengah antara 60-300 km atau 32 persen dari total kejadian gempa, dan nihil gempa dengan kedalaman lebih dari 300 km," tutur Azany Harits.
22 Gempa Berasal dari Zona Subduksi Selatan Jawa-Bali-Lombok
Stasiun Geofisika Denpasar juga memetakan sumber gempa. Sebanyak 22 kejadian terjadi di selatan Pulau Jawa, Bali, dan Lombok yang diperkirakan berkaitan dengan subduksi Indo Australia-Eurasia.
Enam kejadian lainnya menyebar di wilayah Pulau Bali, Lombok, dan sekitarnya. Gempa kelompok ini diperkirakan berkaitan dengan sesar di belakang busur Flores serta aktivitas sesar aktif.
Meski frekuensi gempa tergolong tinggi, seluruh kejadian tercatat tidak dirasakan masyarakat di Bali dan sekitarnya. Stasiun Geofisika Denpasar terus memantau aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.