Pencarian

Warga Keturunan Arya Madura Klungkung Gelar Tradisi Ngaro, Prosesi Puncak Digelar di Pantai Siut Gianyar

Senin, 28 September 2026 • 05:32:31 WIB
Warga Keturunan Arya Madura Klungkung Gelar Tradisi Ngaro, Prosesi Puncak Digelar di Pantai Siut Gianyar
Warga keturunan Arya Madura di Banjarangkan, Klungkung, mengarak tapakan atau pretima menuju kawasan pesisir dalam rangkaian ritual Ngaro.

KLUNGKUNG — Rangkaian ritual Ngaro dimulai dengan pembuatan banten sejak pukul 18.00 WITA. Puluhan warga kemudian mengarak seluruh tapakan atau pretima dengan berjalan kaki menuju kawasan pesisir.

Prosesi persembahan banten di tengah malam berlangsung khidmat. Suasana minim penerangan lampu dan tanpa riuh nyanyian gamelan.

Jejak Sejarah: Keris Raja Bali yang Jatuh di Perairan Sanur

Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, menjelaskan bahwa tradisi Ngaro berasal dari ritual penebusan dosa leluhur oleh Adipati Arya Kuda Pinolih di Madura.

Hubungan kedua wilayah makin erat ketika Raja Bali masa itu, Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan, diiringi Arya Kuda Pinolih menuju Bali.

Dalam perjalanan laut, keris milik Raja Bali sempat jatuh di perairan Bali Selatan. Keris itu akhirnya ditemukan kembali oleh Arya Kuda Pinolih berkat bantuan seekor ikan barakuda atau ikan kucul di perairan Pantai Karang Intaran, Sanur.

Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan tradisi Ngaro secara turun-temurun.

Mengapa Prosesi Puncak Digelar di Pantai Siut Gianyar

Abrasi yang menggerus Pantai Tegal Besar memaksa warga memindahkan lokasi prosesi puncak. Pilihan jatuh ke Pantai Siut di Kabupaten Gianyar.

Prosesi berlangsung tepat pukul 00.00 WITA. Ritual dipuput oleh Jero Mangku setempat.

Filosofi Ngaro: Keselamatan dan Kerahayuan Jagat

Usai ritual, persembahan tumpeng dan banten dibagikan kepada seluruh pemedek yang hadir.

"Saat melaksanakan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu penerang. Usai ritual, persembahan tumpeng dan banten dibagikan kepada seluruh pemedek yang hadir. Secara filosofis, tradisi Ngaro bertujuan memohon keselamatan, kerahayuan jagat, serta wujud syukur kepada leluhur," jelas I Wayan Juliawan.

Pelaksanaan Ngaro tahun ini menegaskan posisi warga keturunan Arya Madura di Banjarangkan sebagai penjaga tradisi yang menghubungkan dua pulau. Ritual yang diwariskan lintas generasi itu tetap dijalankan meski lokasi prosesi harus menyesuaikan kondisi alam pesisir.

Follow pojokbali.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: letternews.net

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks