BANGLI — Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan komitmen tersebut saat menghadiri Muspayang Bhakti Nganyarin, rangkaian Karya Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat (Ida Betara/Betari Tedun Kabeh), di Pura Bukit Mentik, Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, Kamis (1/10) sore. Pura Bukit Mentik disebutnya sebagai salah satu simbol penting peradaban Bali yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang harus terus dijaga. Koster menilai kawasan Kintamani memiliki anugerah alam yang sangat besar dengan keberadaan Gunung dan Danau Batur.
Pura Bukit Mentik dan Anugerah Alam Kintamani
Menurut Koster, kekayaan alam Kintamani itu harus dirawat secara berkelanjutan agar tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali. Ia menempatkan pelestarian kawasan sakral sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan peradaban Bali. Gunung dan Danau Batur menjadi penanda betapa besar anugerah alam yang dimiliki kawasan tersebut.
Perhatian Serius untuk Pembangunan Bangli
Koster juga menyampaikan bahwa dirinya memberikan perhatian serius terhadap pembangunan di Kabupaten Bangli. Pembangunan, menurutnya, harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam, budaya, adat, dan kehidupan spiritual masyarakat. Pernyataan itu disampaikan di hadapan warga Desa Adat Batur yang mengikuti rangkaian upacara.
Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ke Depan
Komitmen tersebut, lanjut Koster, menjadi bagian dari haluan pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. Arah pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga memastikan Bali tetap ajeg dengan kekuatan adat dan budaya sebagai fondasinya. Dengan begitu, pembangunan di Bangli dan kabupaten lain di Bali diharapkan tidak mengorbankan warisan adat dan spiritual yang sudah ada.
Desa Adat sebagai Fondasi Keberlanjutan Bali
Koster menegaskan, penguatan seluruh desa adat di Bali menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Bali ke depan. Desa adat dinilai memiliki peran strategis dalam mempertahankan nilai-nilai budaya, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat Bali. Penguatan itu disebutnya sejalan dengan pelestarian kawasan sakral seperti Pura Bukit Mentik.