DENPASAR — PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melaporkan adanya pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Bali. Penurunan volume penggunaan terjadi pada jenis BBM nonsubsidi tak lama setelah kebijakan penyesuaian harga diberlakukan pada pertengahan April lalu.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengonfirmasi bahwa perubahan tersebut belum menyentuh angka yang signifikan. Secara umum, serapan energi di seluruh wilayah Bali masih berada pada koridor stabil.
Penyesuaian harga yang berlaku sejak 18 April menjadi faktor utama yang memicu perubahan perilaku konsumen di Bali. Pengguna kendaraan kini cenderung lebih selektif dalam menentukan intensitas perjalanan maupun jenis bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan mereka.
"Overall cenderung stabil, ada penurunan sedikit untuk BBM nonsubsidi, kemungkinan disebabkan penyesuaian harga," ujar Ahad Rahedi, Minggu (3/5).
Meski terjadi penurunan, Pertamina belum merinci secara detail persentase angka pergeseran konsumsi tersebut. Pihak otoritas terus melakukan pemantauan intensif di setiap SPBU untuk mengantisipasi dinamika kebutuhan masyarakat yang fluktuatif.
Tren work from home (WFH) atau kebijakan kerja fleksibel yang diadopsi sejumlah sektor usaha belum memberikan pengaruh dominan terhadap efisiensi energi. Penurunan konsumsi BBM di Bali ternyata tidak dipicu oleh berkurangnya mobilitas pekerja kantor.
Ahad menjelaskan bahwa struktur ekonomi Bali sangat bergantung pada pergerakan fisik manusia. Aktivitas harian masyarakat dan operasional bisnis tetap berjalan normal, sehingga kebutuhan pasokan energi tetap berada pada level yang tinggi.
Mobilitas di Bali tidak hanya ditentukan oleh sektor perkantoran saja. Arus kendaraan tetap padat karena didorong oleh aktivitas logistik dan jasa yang memerlukan pergerakan konstan setiap harinya di berbagai titik strategis.
Sektor pariwisata memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas konsumsi energi di Pulau Dewata. Kunjungan wisatawan yang terus mengalir memastikan kendaraan sewa dan moda transportasi publik tetap beroperasi secara maksimal.
Kondisi ini mampu menahan potensi penurunan konsumsi BBM yang lebih dalam akibat kenaikan harga nonsubsidi. Selama mesin industri pariwisata tetap berputar, permintaan terhadap bahan bakar diprediksi akan tetap konsisten pada bulan-bulan mendatang.
Pertamina berkomitmen untuk terus memantau tren konsumsi energi masyarakat di lapangan. Langkah antisipasi disiapkan guna menghadapi perubahan perilaku konsumen yang dipengaruhi oleh dinamika harga global maupun kebijakan domestik terbaru.