Valve mencatat The Elder Scrolls V: Skyrim sebagai salah satu judul paling populer di Steam Deck selama lima bulan berturut-turut hingga April lalu. Meski menyandang status "Unsupported", RPG legendaris ini tetap berjalan optimal dan banyak dimainkan oleh pengguna konsol genggam tersebut di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Ada sebuah anomali menarik dalam data statistik terbaru yang dirilis oleh Valve. The Elder Scrolls V: Skyrim secara konsisten masuk dalam daftar gim yang paling banyak dimainkan di Steam Deck selama periode Desember, Januari, Februari, Maret, hingga April. Hal ini menjadi paradoks karena secara resmi, Valve memberikan label "Unsupported" atau tidak didukung untuk gim tersebut.
Label "Unsupported" ditandai dengan ikon lingkaran putih dengan garis diagonal. Biasanya, status ini merupakan "lonceng kematian" bagi sebuah gim untuk bisa dimainkan secara portabel. Valve mendefinisikan status ini dengan keterangan bahwa beberapa atau seluruh bagian gim saat ini tidak berfungsi di Steam Deck.
Penurunan status Skyrim Special Edition rilisan 2016 dari "Verified" menjadi "Unsupported" ini terpantau dimulai sejak Desember tahun lalu. Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari Valve mengenai alasan di balik perubahan status tersebut, padahal ribuan pemain membuktikan hal sebaliknya di lapangan.
Bagi sebagian besar gim, status tidak didukung biasanya berarti adanya masalah teknis yang fatal. Kendala umum mencakup kontroler yang tidak terdeteksi, teks yang tidak terbaca di layar kecil, hingga keharusan memodifikasi file .ini yang merepotkan pengguna awam. Namun, Skyrim justru mematahkan stigma tersebut.
Laporan dari komunitas di Reddit, Steam, hingga situs kurasi Steam Deck HQ mengonfirmasi bahwa gim ini masih berjalan tanpa cela. Pengguna tidak menemukan masalah performa berarti, dan sistem kontrol gamepad bawaan Steam Deck tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Pengalaman bermain yang ditawarkan justru jauh lebih stabil dibandingkan beberapa gim yang menyandang status "Verified".
Kesenjangan antara laporan resmi Valve dan realitas pengguna ini menciptakan situasi unik. Skyrim kini memegang predikat tidak resmi sebagai gim "tidak bisa dimainkan" yang paling banyak dimainkan di platform tersebut. Fenomena ini sekaligus memicu kritik terhadap sistem kurasi Valve yang dianggap terkadang lambat atau tidak akurat dalam memperbarui status kompatibilitas gim.
Bagi pemilik Steam Deck di Indonesia yang membeli unit melalui jalur distributor atau toko daring, status kompatibilitas seringkali menjadi pertimbangan utama sebelum membeli gim di Steam Store. Harga Skyrim Special Edition yang sering mendapatkan diskon besar di region Indonesia (IDR) menjadikannya pilihan menggiurkan bagi pencinta RPG.
Fenomena Skyrim ini mengajarkan bahwa label dari Valve bukan satu-satunya rujukan. Gamer disarankan untuk memeriksa situs pihak ketiga seperti ProtonDB sebelum memutuskan batal membeli sebuah gim hanya karena label "Unsupported". Banyak gim dengan status tersebut ternyata bisa berjalan sempurna hanya dengan mengganti versi Proton di menu pengaturan Steam Deck.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa gim indie, seperti Dread Delusion, yang sempat menyandang status "Verified" selama bertahun-tahun namun baru benar-benar layak main setelah pembaruan terkini. Ketidakpastian status ini menunjukkan bahwa sistem verifikasi otomatis Valve masih memerlukan campur tangan manusia dan masukan komunitas secara lebih intensif.
Hingga saat ini, Skyrim tetap menjadi judul wajib bagi pemilik Steam Deck yang menginginkan petualangan open-world berdurasi ratusan jam. Selama performa di perangkat tetap terjaga, tampaknya label merah atau putih dari Valve tidak akan menyurutkan niat pemain untuk terus menjelajahi daratan Tamriel secara portabel.