Barocal mengembangkan teknologi pendingin berbasis material padat yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan kompresor konvensional. Inovasi ini berpotensi menggantikan sistem pendingin udara (AC) dan kulkas di Indonesia yang selama ini bergantung pada gas rumah kaca berbahaya.
Teknologi pendinginan kulkas dan AC hampir tidak mengalami perubahan fundamental selama lebih dari satu abad. Hingga saat ini, sistem kompresi uap masih menjadi standar industri global meski memiliki risiko kebocoran gas yang merusak lapisan ozon dan mempercepat pemanasan global.
Barocal, sebuah perusahaan rintisan (startup) asal Inggris, memperkenalkan terobosan menggunakan material padat murah untuk mendinginkan makanan dan ruangan. Prototipe awal mereka menunjukkan tingkat efektivitas yang setara dengan kompresor kulkas modern, namun dengan konsumsi energi yang jauh lebih rendah.
Inovasi ini lahir dari riset Xavier Moya, profesor fisika material di University of Cambridge sekaligus pendiri Barocal. Ketertarikannya pada sistem pendingin berawal dari pengalaman masa kecilnya di Spanyol saat harus belajar di ruangan yang sangat panas.
Teknologi Barocal memanfaatkan prinsip termodinamika pada material organik padat yang mirip dengan bahan pembuat plastik atau cat. Rahasianya terletak pada manipulasi molekul di dalam material tersebut melalui tekanan fisik.
"Jika Anda meregangkannya, material itu menjadi panas. Kemudian jika Anda menunggu dan melepaskannya, rasanya akan dingin," ujar Xavier Moya saat mendemonstrasikan prinsip dasar teknologinya menggunakan analogi balon karet.
Dalam kondisi normal, molekul di dalam material Barocal berputar bebas. Saat diberikan tekanan (dikompresi), pergerakan molekul tersebut berhenti dan melepaskan energi berupa panas. Sebaliknya, ketika tekanan dilepaskan, material akan menyerap panas dari lingkungan sekitar untuk mendinginkan suhu.
Untuk memindahkan suhu dingin tersebut ke dalam kulkas atau ruangan, Barocal mengalirkan air melewati material padat ini menuju radiator. Karena tidak menggunakan gas cair seperti freon, risiko kebocoran zat pendingin yang memiliki efek pemanasan 1.000 kali lebih kuat dari karbon dioksida dapat dihilangkan sepenuhnya.
Guna mempercepat komersialisasi teknologi ini, Barocal baru saja mengamankan pendanaan awal (seed round) sebesar US$10 juta atau sekitar Rp160 miliar. Putaran pendanaan ini melibatkan investor kakap seperti World Fund, Breakthrough Energy Discovery, Cambridge Enterprise Ventures, dan IP Group.
Fokus awal perusahaan bukan langsung menyasar perangkat elektronik konsumen kecil. Barocal membidik sistem pendingin udara (HVAC) komersial berskala besar dan kulkas industri sebagai langkah awal masuk ke pasar global.
"Kami melihat sistem komersial yang lebih besar sebagai tempat di mana kami dapat memberikan dampak yang lebih besar dan lebih cepat," kata Moya. Efisiensi energi pada skala besar akan memberikan penghematan biaya operasional yang signifikan bagi pemilik gedung atau industri logistik pangan.
Di Indonesia, penggunaan AC dan alat pendingin merupakan salah satu penyumbang konsumsi listrik terbesar, baik di sektor rumah tangga maupun perkantoran. Teknologi Barocal menawarkan solusi konkret untuk menekan biaya tagihan listrik bulanan sekaligus mendukung target net-zero emission pemerintah.
Sistem pendingin berbasis air dan material padat ini juga lebih cocok untuk iklim tropis karena biaya perawatan yang berpotensi lebih murah tanpa perlu pengisian ulang gas refrigeran secara berkala. Jika masuk ke pasar lokal, teknologi ini bisa menjadi standar baru bagi pengembang properti yang mengedepankan konsep bangunan hijau (green building).
Langkah Barocal selanjutnya adalah menyempurnakan prototipe untuk produksi massal. Tantangan terbesarnya kini tinggal memastikan daya tahan material kristal plastik tersebut agar mampu bekerja dalam siklus tekanan ribuan kali selama masa pakai perangkat.