DENPASAR — Fasilitas pendukung layanan Trans Metro Dewata di Bali masih terus dilengkapi. Namun, hingga saat ini, kekurangan 80 unit tiang penanda halte menjadi keluhan utama para pengguna setia transportasi umum tersebut.
Seorang penumpang rutin TMD di koridor Denpasar-Gianyar mengaku sering salah turun. Ia baru sadar melewati titik tujuannya karena tidak ada marka atau papan petunjuk yang jelas. “Saya harus hafal ciri-ciri jalan sendiri, kalau tidak, bisa kelewatan,” ujarnya.
Kondisi ini dinilai menghambat efektivitas layanan. Tanpa tiang penanda yang memadai, potensi pengguna baru yang ingin beralih ke transportasi publik juga berkurang.
Pengadaan tiang penanda ini akhirnya mendapat suntikan dana dari sektor swasta. PT Satria Trans Jaya, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), berkomitmen melengkapi kekurangan tersebut. Pemasangan akan dilakukan secara bertahap di titik-titik prioritas.
Langkah ini menjadi angin segar bagi Dinas Perhubungan Bali yang selama ini terkendala anggaran. Dengan adanya bantuan dari korporasi, target pemenuhan fasilitas penunjang bisa dipercepat.
Belum ada batas waktu pasti kapan ke-80 tiang tersebut akan terpasang seluruhnya. Pihak PT Satria Trans Jaya masih melakukan inventarisasi lokasi yang paling membutuhkan. Proses koordinasi dengan pemerintah daerah juga masih berlangsung untuk menentukan spesifikasi tiang yang sesuai.
Penumpang berharap pemasangan tiang penanda tidak molor. “Kami butuh kepastian. Setiap hari naik bus, setiap hari juga bingung cari tempat berhenti,” keluh pengguna lainnya.
Sembari menunggu pemasangan tiang, penumpang disarankan memanfaatkan aplikasi pelacak bus secara real-time. Beberapa operator TMD sudah menyediakan fitur tersebut untuk membantu penumpang mengetahui posisi bus dan titik pemberhentian terdekat.
Pemerintah provinsi juga mengimbau agar pengguna melaporkan titik-titik yang dianggap kritis melalui kanal pengaduan resmi. Data dari laporan warga akan menjadi prioritas dalam penempatan tiang penanda tahap pertama.
Data dari Dinas Perhubungan Bali menunjukkan, dari total kebutuhan di seluruh koridor, baru sekitar 60 persen tiang penanda yang terpasang. Artinya, masih ada puluhan titik yang belum memiliki petunjuk sama sekali. Kekurangan paling banyak terjadi di koridor-koridor baru yang rutenya baru diperpanjang.
Pemasangan tiang penanda ini bukan sekadar estetika. Tanpa petunjuk yang jelas, potensi kecelakaan akibat penumpang menyeberang sembarangan atau bus berhenti di lokasi tidak semestinya menjadi lebih tinggi.