Tersisa Kurang dari Lima Pohon, Cemara Pandak di Bali Kini di Ambang Kepunahan, BRIN dan Kebun Raya Bali Berlomba Perbanyak Bibit

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:04:38 WIB
Populasi cemara pandak di Bali kini tersisa kurang dari lima pohon dewasa.

BULELENG — Nasib cemara pandak, jenis pohon endemik yang hanya tumbuh di ekosistem khas Bali, kini berada di ujung tanduk. Tim peneliti dari BRIN dan Kebun Raya Bali mengonfirmasi bahwa populasi alami spesies ini tersisa kurang dari lima pohon dewasa, menjadikannya salah satu flora paling kritis di Pulau Dewata.

Pohon yang memiliki peran penting dalam menjaga struktur tanah di kawasan danau dan hutan pegunungan ini sebelumnya ditemukan tersebar di beberapa titik di Bali Utara. Namun, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan minimnya regenerasi alami membuat populasinya runtuh drastis dalam satu dekade terakhir.

Perbanyakan Massal: Satu-satunya Jalan Selamat

Kepala Kebun Raya Bali, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa timnya kini bekerja dengan sistem "kebal balapan dengan waktu". Mereka mulai melakukan upaya perbanyakan populasi massal melalui pembibitan intensif di laboratorium kultur jaringan dan rumah kaca di kawasan Bedugul.

"Kami mengumpulkan materi genetik dari pohon terakhir yang masih hidup. Setiap batang dan biji adalah aset yang tak ternilai," ujarnya dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Danau Tamblingan Jadi Lokasi Restorasi

Selain pembibitan, BRIN bersama komunitas pecinta lingkungan dan desa adat setempat meluncurkan gerakan penanaman pohon di sepanjang kawasan konservasi Danau Tamblingan. Lokasi ini dipilih karena kondisi mikro-iklim dan tanahnya dianggap paling cocok untuk memulihkan populasi cemara pandak di alam liar.

Gerakan ini melibatkan puluhan warga dari desa-desa penyangga danau. Mereka dilatih untuk menanam, merawat, dan memantau pertumbuhan bibit di titik-titik yang telah dipetakan oleh peneliti.

Mengapa Cemara Pandak Begitu Kritis?

Cemara pandak bukan sekadar pohon langka. Secara ekologis, spesies ini berfungsi sebagai pengikat tanah di daerah tangkapan air danau dan hulu sungai. Akarnya yang dalam mampu menahan erosi di lereng-lereng curam kawasan Bali Utara.

Tanpa cemara pandak, risiko longsor dan sedimentasi di Danau Tamblingan diperkirakan meningkat. Selain itu, pohon ini juga menjadi habitat bagi beberapa jenis burung endemik yang bergantung padanya untuk bersarang.

Apa Langkah Selanjutnya?

Tim BRIN menargetkan produksi minimal 500 bibit siap tanam dalam satu tahun ke depan. Setelah bibit cukup kuat, penanaman akan diperluas ke kawasan hutan lindung di sekitar Desa Munduk dan Gobleg.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya teknis. Cuaca ekstrem dan perubahan suhu di pegunungan Buleleng membuat tingkat keberhasilan tumbuh bibit di alam liar masih rendah. Tim peneliti terus memantau setiap bibit yang ditanam dengan sensor kelembaban tanah dan kamera otomatis.

Berapa Biaya yang Dibutuhkan?

Hingga saat ini, anggaran untuk program penyelamatan cemara pandak masih bersumber dari dana internal BRIN dan hibah konservasi. Belum ada angka pasti yang dirilis, namun tim menyebut kebutuhan dana untuk pembibitan dan monitoring setidaknya mencapai ratusan juta rupiah per tahun.

BRIN berharap pemerintah provinsi Bali dan Kementerian Lingkungan Hidup dapat turun tangan dengan skema pendanaan khusus untuk spesies endemik kritis. Sebab, tanpa intervensi cepat, cemara pandak akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah flora Indonesia.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: radarbali.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top