Bagi banyak orang, mematikan notifikasi ponsel terasa seperti tindakan nekat. Kita khawatir akan melewatkan pesan penting, berita terbaru, atau sekadar meme dari teman. Namun, setelah menjalani eksperimen ini, jurnalis tersebut justru tidak ingin kembali ke kebiasaan lamanya.
Pada hari pertama, yang dirasakan bukanlah ketenangan, melainkan kecemasan yang menggelitik. “Saya merasa ada sesuatu yang terjadi di suatu tempat, tapi saya tidak tahu apa,” tulisnya dalam laporan yang diterbitkan CNET. Ponselnya, yang biasanya seperti “granat yang siap meledak,” tiba-tiba menjadi benda mati yang tidak menyembunyikan apa pun.
Ia harus mematikan notifikasi satu per satu secara manual—Apple tidak menyediakan fitur untuk melakukannya sekaligus. Prosesnya melelahkan, tapi hasilnya radikal: layar kunci kosong tanpa satu pun lencana merah yang menuduhnya tertinggal.
Eksperimen ini membongkar ilusi bahwa kecanduan ponsel semata-mata masalah disiplin pribadi. “Notifikasi adalah tindakan desain yang kecil dan tanpa henti,” tulis sang jurnalis. Mereka ada untuk menciptakan momen urgensi, menarik mata kembali ke aplikasi, mengingatkan bahwa sesuatu mungkin menunggu.
Padahal, seringkali itu bukan apa-apa: kode diskon, postingan “mungkin Anda lewatkan,” atau pemberitahuan bahwa burger ungu McDonald's kembali tersedia. Aplikasi menghasilkan uang ketika Anda membukanya, menggulir, membeli, atau memberi mereka data. Setiap notifikasi adalah senar pancing yang dilemparkan ke hari Anda.
Survei Reviews.org tahun 2026 menemukan bahwa orang Amerika memeriksa ponsel mereka rata-rata 186 kali per hari—atau sekitar 11,6 kali setiap jam bangun. Hampir setengah dari responden tidur dengan ponsel di sampingnya, dan 41,3 persen merasa panik atau cemas ketika baterai turun di bawah 20 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi pada survei tahun 2025: 205 pemeriksaan per hari.
Jurnalis itu menyadari pola yang sama pada dirinya: memeriksa ponsel saat bangun tidur, saat membuat sarapan, di sela-sela menulis paragraf, di lift, di lampu merah, di antrean supermarket, sambil menonton TV, dan bahkan saat berpura-pura tidak memeriksanya di sekitar orang lain. “Setengah dari waktu, saya bahkan tidak mencari sesuatu yang spesifik. Saya hanya merespons kemungkinan bahwa sesuatu mungkin ada di sana,” katanya.
Harvard Medical School telah mendeskripsikan game dan media sosial beroperasi pada “sistem hadiah variabel”—mekanisme psikologis yang sama yang membuat mesin slot begitu adiktif. Anda tidak tahu kapan hadiah akan datang, jadi Anda terus menarik tuas. Di ponsel, tuasnya adalah ibu jari Anda. Hadiahnya bisa berupa like, pesan, email, balasan, atau bukti bahwa Anda masih eksis di benak orang lain.
Notifikasi menghilangkan kebutuhan akan rasa ingin tahu. Anda tidak perlu bertanya-tanya apakah sesuatu terjadi. Ponsel Anda memberi tahu. Lalu memberi tahu lagi. Dan lagi—saat Anda bekerja, berjalan, makan, mengemudi, berbicara dengan seseorang, atau mencoba tidur.
Pada akhir pekan, ponsel itu terasa berbeda. Bukan lagi granat yang siap meledak, melainkan alat yang bisa diletakkan tanpa membuat hati berdebar. “Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya harus memutuskan kapan harus melihatnya,” tulisnya.
Bagi pengguna di Indonesia, di mana penetrasi ponsel pintar mencapai 79 persen dan notifikasi dari aplikasi e-commerce, perbankan, hingga media sosial membanjiri layar setiap menit, eksperimen ini menawarkan pertanyaan sederhana namun radikal: apakah Anda yang menggunakan ponsel, atau ponsel yang menggunakan Anda?