BALI — Jakarta, TAMBANG – Tekanan terhadap rupiah kian berat. Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda terperosok ke posisi Rp17.966 per dolar AS, turun signifikan dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.839. Level ini menjadi yang terlemah dalam beberapa waktu terakhir, mendekati batas psikologis Rp18.000.
Pengamat ekonomi dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan dolar AS saat ini tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik yang memanas. "Investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Israel masih melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. Kondisi ini mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven," jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).
Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan di Pulau Qeshm, Iran. Lokasi ini berada tepat di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Ancaman terhadap jalur ini langsung memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi global.
Kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut ikut mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. "Data lowongan kerja AS yang meningkat pada April menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat. Ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih panjang," ujar Ibrahim.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi penting AS, mulai dari laporan ketenagakerjaan ADP, survei sektor jasa ISM, data pesanan pabrik, hingga laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis akhir pekan ini.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga memburuk. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan (month-to-month/MtM), lebih tinggi dibandingkan April yang hanya 0,13%. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,08%.
Ibrahim menjelaskan, kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh harga pangan yang bergejolak, harga energi, serta harga yang diatur pemerintah. "Sentimen mata uang garuda memburuk setelah inflasi Mei meningkat. Pelemahan nilai tukar rupiah juga turut memberikan tekanan terhadap kenaikan harga," katanya.
Di sisi lain, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar US$89,1 juta, memperpanjang rekor surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus tersebut menyusut tajam dibandingkan periode sebelumnya. "Ini menggarisbawahi adanya tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal Indonesia akibat terganggunya pasokan global, terutama karena blokade Selat Hormuz oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang hingga kini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali," tegasnya.
Untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. "Mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS," pungkasnya. Artinya, bukan tidak mungkin rupiah akan menembus level psikologis Rp18.000 dalam waktu dekat jika tekanan global dan domestik belum mereda.
Disclaimer: Analisis ini merupakan pandangan pribadi Ibrahim Assuaibi sebagai pengamat ekonomi dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menjual, atau menahan instrumen investasi tertentu. Perdagangan valuta asing memiliki risiko tinggi sebagaimana diatur dalam UU Perdagangan Berjangka Komoditi.